Per Januari 2012, blog saya migrasi ke Wordpress ya. Ini tautannya kalau mau mampir (http://okki-sutanto.com), trims! =D

Jumat, 25 Februari 2011

Cerpenario - Pak Arman

//FADE IN//


Sc 01. INT. AIRPORT, TERMINAL KEDATANGAN. - (SORE)


Suasana airport cukup ramai. Seorang lelaki, kelak kita tahu namanya RANGGA, melihat papan elektronik jadwal kedatangan pesawat. Lalu ia mengecek jam arlojinya. Tak lama ia mencari tempat duduk terdekat.


RANGGA
(Bergumam, sambil mengecek arloji)
Hmm.. Masih ada waktu..
Rangga mengeluarkan buku.


Tak lama, Seorang lelaki tua, kemudian kita kenal namanya PAK ARMAN, berjalan menghampiri Rangga.


PAK ARMAN
Menunggu orang juga?
Rangga mengangguk.


PAK ARMAN
Sama. Bapak juga sedang menunggu anak bapak. Pukul empat pesawatnya mendarat. Boleh bapak duduk di sini?

RANGGA
Oh silakan Pak.
Rangga menutup bukunya.

PAK ARMAN
Kamu menunggu siapa? Keluarga?

RANGGA
Ya, bisa dikatakan begitu. Bapak sendiri saja?

PAK ARMAN
Iya. Nama kamu siapa?

RANGGA
Bapak bisa memanggil saya Rangga.

PAK ARMAN
(sambil mengulurkan tangan)
Kenalkan, nama bapak ARMAN. Dari Armandito, nama belakang bapak.
Rangga menyalami tangan si bapak sambil tersenyum.

PAK ARMAN
Usia kamu dua puluhan ya? Sebaya dengan anak bapak. Nama anak bapak Vidi, baru saja menyelesaikan studi di Jerman, jurusan teknik sipil. Kamu kuliah di mana?

RANGGA
(Tertawa). Hmm.. Saat ini saya sudah tidak melanjutkan studi.

PAK ARMAN
Wah, kenapa? Andai Vidi mendengar ceritamu, pasti ia akan menasehatimu. Untuk Vidi, pendidikan itu sungguh penting! Selama bisa diusahakan, harus dikejar!


RANGGA
(Tersenyum). Sepertinya bapak sangat membanggakan Vidi.


PAK ARMAN
Tentu! Vidi itu anak tunggal bapak. Satu-satunya. Bapak tak bisa berharap lebih lagi dari seorang anak. Bayangkan saja, sejak SD, ia sudah mandiri mengurus dirinya sendiri. Ibunya sudah meninggal sejak ia masih kecil. Bapak selalu sibuk dengan urusan kantor. Saat ia SMA, bapak kena PHK. Bapak tak sanggup lagi menyekolahkan dia, tapi dia mencari penghasilan sendiri dengan menjadi guru les bagi teman-temannya. Semangatnya sungguh tidak tertandingi.


Tampak Pak Arman perlahan menerawang, terdiam memikirkan sesuatu.


RANGGA
Bapak kenapa? Koq ceritanya berhenti? Sudah selesai?



PAK ARMAN
(Menarik nafas panjang). Kadang bapak berpikir, rasanya tidak pantas sekali bapak memiliki anak sehebat dia. Bapak tidak pernah memberikan apa-apa untuk dia. Kamu pernah berpikir untuk membalas budi kepada orangtuamu?



RANGGA
Tentunya pernah, pak.



PAK ARMAN
Vidi selalu memikirkan itu! Padahal, bapak rasa apa yang sudah bapak lakukan sebagai ayah selama ini tidak sebanding dengan apa yang sudah ia lakukan sebagai anak.


RANGGA
Jangan berkata seperti itu pak, bagaimana pun seorang anak tumbuh besar dengan meneladani bapaknya. Tanpa bapak, tentu Vidi tak akan bisa melanjutkan studi hingga ke luar negeri bukan?


PAK ARMAN
(Tersenyum). Sebenarnya sejak bapak di-PHK, praktis tak banyak kontribusi bapak untuk Vidi. Semua biaya sekolahnya ia sendiri yang mengusahakan. Kuliah ke luar negeri pun ia dapatkan melalui jalur beasiswa dengan susah payah. Yang bapak lakukan hanya menandatangani surat ini-itu, dan membantu dengan doa saja. Ah...... Andai ia terlahir di keluarga yang lebih baik, mungkin ia tak perlu hidup berkesusahan menjadi anak bapak.


RANGGA
Kadang hidup dalam kesusahan membuat proses pendewasaan berlangsung lebih baik, pak.


PAK ARMAN
Ya, semoga saja. Semoga Vidi tak pernah menyesal menjadi anak bapak.



RANGGA
Pasti pak, saya berani menjamin hal itu. (Sambil tersenyum dan menatap mata pak Arman dalam-dalam)


PAK ARMAN 
(sambil mengecek arloji). Wah, sudah jam segini. Bapak coba mengecek jadwal kedatangan pesawat ya. Terima kasih, kamu sudah mau mendengarkan ocehan bapak yang ga jelas ini. Salam untuk keluargamu.


RANGGA
Sama-sama, pak. Salam hangat untuk Vidi.


Kita melihat Pak Arman berjalan menjauhi Rangga dan hilang dalam keramaian. Tak lama kita melihat Rangga berdiri dari tempat duduknya dan keluar ke pelataran parkir, sambil membawa bukunya.

//CUT TO//


Sc 02. EXT. PELATARAN PARKIR AIRPORT. - (SORE)
Seorang satpam menghampiri Rangga.


SATPAM
Dek, kamu tadi ngobrol dengan bapak tua itu?

RANGGA
Iya pak, ada apa?

SATPAM
Kalau dia bicara yang aneh-aneh, dimaklumkan saja ya dek.

RANGGA
(Sedikit bingung). Rasanya tidak ada yang aneh, memang kenapa pak?

SATPAM
Sebenarnya setiap siang Bapak itu ke sini dek. Menunggu kedatangan pesawat anaknya. Padahal...

RANGGA
Padahal kenapa Pak?

SATPAM
Padahal anaknya tidak akan pernah datang Dek. Pesawatnya kecelakaan tahun lalu. Kalau Adek masih ingat kecelakaan MALAYA AIRLINES, cukup heboh beritanya di televisi tahun lalu. Tak lama setelah mengudara, mesinnya mati dan jatuh di tengah laut. Hampir semua penumpang meninggal, termasuk anak si Bapak tua tadi.


RANGGA
Iya, saya tahu berita tersebut. Jadi begitu... Lalu, apa yang terjadi dengan si bapak?

SATPAM
Si bapak kesulitan menerima kenyataan itu dek. Tak lama setelah kejadian, kata orang-orang dia jadi gila. Tiap hari dia tunggui kedatangan anaknya di sini. Sekitar pukul lima sore ia akan pulang. Biasanya ia akan mengaku pada orang-orang bahwa ia salah tanggal, seharusnya besok anaknya pulang, bukan hari ini. Maka esoknya ia akan datang lagi, di waktu dan tempat yang sama, setiap hari.

RANGGA
Setiap hari?

SATPAM
Setiap hari dek, tanpa absen sekalipun! Semua orang di sini sudah mengenalnya, beberapa kadang mengajaknya mengobrol, kasihan melihatnya. Ya sudah kalau begitu, pokoknya kalau bapak tadi mengatakan yang aneh-aneh, jangan dianggap serius ya dek.

RANGGA
Oke-oke, saya mengerti. Terima kasih pak.

SATPAM
Ya, hati-hati di jalan ya dek.


Satpam berjalan menjauh dari Rangga. Rangga memperhatikan satpam tersebut untuk beberapa saat, lalu berjalan menjauh. Tak lama buku Rangga terjatuh. Saat Rangga mengambilnya, halaman pertama tak sengaja terbuka, tertulis nama pemilik buku tersebut: VIDI ARMANDITO.


Rangga melihat halaman pertama tersebut, tersenyum, dan berjalan lagi.


Kamera zoom-out perlahan. Kita melihat sebuah mobil melintas menghalangi pandangan kita ke Rangga. Setelah mobil menghilang, Rangga tak lagi terlihat. Lenyap, tanpa bekas.


//FADE OUT.//

Selasa, 22 Februari 2011

Keberanian untuk bertanya

"Kadang kita terlalu semangat berlari, mengejar jawaban. Melupakan apa sesungguhnya lebih penting: keberanian untuk bertanya."

Rabu, 16 Februari 2011

Selamat Pensiun, Ronaldo & Justin-Henin!

Berita KOMPAS hari ini membuat saya sedikit tertegun. Dua orang legenda yang saya kagumi di dunia olahraga memutuskan pensiun. Ada Ronaldo dari cabang sepakbola, ada Justine Henin dari cabang tenis putri. Memang, secara usia mereka sudah tidak muda lagi, namun rasanya masih belum rela melihat mereka berdua meninggalkan panggung "si-kulit-bundar" dan tenis.


Mereka berdua pun sebenarnya belum rela meninggalkan dunia yang benar-benar mereka cintai. Sejak muda, hidup mereka tak bisa dilepaskan dari Sepakbola maupun Tenis. Ronaldo akan selalu dicatat sebagai salah seorang penyerang tengah terbaik yang pernah dimiliki Barcelona, Inter, dan tentunya Brazil. Justin Henin akan selalu dikenang sebagai si mungil lincah yang pernah tujuh kali memenangi Grand Slam.

Totalitas mereka dalam karir membuat mereka sempat mencicipi singgasana tertinggi di karir masing-masing. Ronaldo tiga kali meraih predikat pemain terbaik dunia. Justin Henin pun tak sebentar menjadi petenis putri ranking 1 versi ATP. Di masa keemasan mereka, gaya permainan mereka bisa menjadi suguhan tersendiri yang mampu menyihir setiap penontonnya.

Bagaimana pun, tidak ada yang abadi. Terlebih bagi atlet olahraga, usia adalah momok terbesar. Rasanya mereka berdua benar-benar menyadari hal tersebut. Mereka sadar, fisik mereka tak sanggup lagi memuaskan hasrat berkompetisi yang mereka miliki. Cedera sudah menjadi tamu rutin yang makin sering datang. Bahkan Ronaldo sejak beberapa tahun lalu mengidap kelainan hormon yang membuatnya kesulitan menjaga berat badan.

Begitulah. Mereka sadar sudah saatnya mereka berhenti secara terhormat dari dunia yang telah membesarkan nama mereka. Tidak mudah memang, air mata yang terurai saat mereka memberitakan pensiun masing-masing menegaskan hal itu. Dan beberapa waktu ke depan pastinya menjadi masa-masa terberat mereka. Menyaksikan hingar bingar kompetisi yang seharusnya masih bisa mereka ikuti, menyaksikan rekan seperjuangan yang masih sanggup lari mengejar bola, kehilangan kesempatan menyesali kekalahan dan mereguk nikmatnya kemenangan. Menyaksikan itu semua dari pinggir lapangan. Sebagai penonton, bukan pemain.

Perlahan, mereka pasti akan pulih. Karena mereka tetap mencintai dunia mereka sampai akhir, pun penggemar mereka akan terus mencintai mereka. Raga mereka mungkin tak akan lagi berkompetisi, namun spirit mereka akan terus ada di lapangan hijau. Torehan tinta emas mereka dalam dunia masing-masing akan selalu dijadikan tolak ukur, bagi siapapun yang mencintai sepakbola dan tenis.

Terima kasih, Ronaldo dan Justine Henin! =)

Sabtu, 05 Februari 2011

Indeks Kumpulan Cerpen

Kumpulan Cerpen dari KUMPULAN-CERPEN

Kumpulan Cerpen dari GALERI CERPEN FLP

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...