Catatan Pribadi
#Tulisan kelimabelas, hari keempatbelas.
Hari ini saya berkunjung ke sebuah SMP di bilangan Gambir. Saya menemani beberapa teman saya melakukan assessment ke siswa/i, juga membantu melakukan wawancara terhadap beberapa guru. Kami datang dari sekitar pukul sebelas, selesai sekitar pukul tiga sore. Assessment-nya berlangsung lancar, baik ke siswa-siswi SMP maupun ke gurunya, sekaligus juga assessment ke tukang jajanan di depan sekolahnya. hehehe..
Awalnya teman saya yang mengajak membeli cimol. Lantas kami berlima jadi bernostalgia ngobrolin jajanan masa SD. Mulai dari cireng sampai cimol. Mulai dari es-teh-plastikan-lima-ratus-perak sampai telor-dadar-bulet-kecil-kecil. Ternyata di sebuah pelosok kota Jakarta, jajanan itu masih saja ada. Masih saja bertahan di tengah serbuan jajanan modern. Masih saja tersisa untuk menyalurkan hasrat jajan anak-anak sekolahan.
Kami tahu sih, jajanan tersebut tidak sehat. Mulai dari minyak gorengnya yang entah sudah dipakai berapa kali. Juga kandungannya yang sebagian besar cuma tepung. Sampai ke saosnya yang entah sudah di-isi-ulang berapa kali dan dicampur air putih. Tapi, ya namanya terbawa suasana, kami rogoh juga kocek buat memuaskan nafsu duniawi kami. Perut sih gak kenyang, tapi ya mata dan hati kami lumayan tercukupi. hehe..
Hal itu jadi cukup menyadarkan saya. Selama ini saya kira saya sudah memasuki mesin waktu ke masa depan yang jauh, sehingga bumi yang saya tinggali ini sudah berbeda sama sekali dengan bumi semasa saya SD. Ternyata, saya itu masih ada di dunia yang sama. Bumi itu masih ber-rotasi dari barat ke timur. Masih mengelilingi matahari yang sama. Ternyata, saya itu tidak sejadul yang saya kira. Dan ternyata saya ga perlu minder sama anak-anak SD zaman sekarang.
Habisnya, gimana gak minder ya? Dulu itu pas saya SD, kalau gak main bola ya saya mainnya layangan. Nah sekarang, anak-anak TK saja mainannya sudah Ipad, anak SD-nya sudah rajin menyambangi warung internet. Dulu itu, kalau mau berteman kalau nggak sama teman sekelas, ya sama tetangga yang seumuran. Lah, anak sekarang itu jaringan pertemanannya sudah gak terbatas. Tinggal satu-dua kali klik, sudah bertambah satu teman baru. Dulu itu kalau punya artis favorit, ya setengah mati cari alamatnya lalu kirim surat via pak pos. Sekarang ini ya tinggal jadi "follower" aja udah beres. Hayo, gimana ga minder coba kalau jadi saya?
Untungnya hari ini saya tersadarkan. Saya ini masih hidup di Jakarta, Indonesia, dan planet yang sama. Perubahan memang ada dan tak terelakkan. Tapi itu tidak mesti menjadikan saya terasingkan dari dunia saya sendiri, atau dunia masa kecil saya. Dan ketika saya kangen ingin mengenang kembali masa-masa kecil saya, ternyata dunia belum seluruhnya berubah. Masih ada pelosok-pelosok Jakarta yang belum tersentuh megahnya modernitas. Masih ada gang-gang kecil di mana penjualnya masih obral senyum menjajakan cireng, cimol, es-teh-plastikan-lima-ratus-perak, juga telor-dadar-bulet-kecil-kecil.
Semuanya masih ada, mungkin akan selalu ada. Hanya sedang menunggu untuk kita temukan, saat kita mencari.
Jakarta, 3 Mei 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(semoga cimol tiga ribu perak tadi sore tidak membuat saya tambah gendut)
Per Januari 2012, blog saya migrasi ke Wordpress ya. Ini tautannya kalau mau mampir (http://okki-sutanto.com), trims! =D
Selasa, 03 Mei 2011
Senin, 02 Mei 2011
Buat Para Ksatria Berhelm SNI...
Ketikan Pinggir
#Tulisan keempatbelas, hari ketigabelas
Saya itu kadang kasihan sama mereka-mereka yang setiap harinya naik motor. Eh, kalimat pembukanya terlihat sombong ya? Maaf. Ga ada maksud sombong sama sekali, wong saya sendiri juga pengendara sepeda motor kok. Maklum, saya cuma mahasiswa, dan kebetulan saya bukan orang mampu. Orangtua saya sih mungkin saja orang mampu, tapi kan sayanya belum! Ya toh? hehehe. Naik motor itu ya mau nggak mau. Habis gimana? Saya cuma sanggup beli bensin buat motor, motornya saja masih dipinjamkan sama orangtua. Jujur saya belum sanggup kalau disuruh beli bensin buat mobil. Wong beli bensin motor saja sudah ngos-ngosan. Ngasong sana-sini. Ngamen kiri-kanan. Untungnya selama ini masih tercukupi, bahkan rutin membeli BBM non-subsidi. Habis, gimana? Katanya BBM subsidi itu cuma buat orang susah. Ya karena saya gengsi kalau dibilang orang susah, ya saya isi saja dengan yang non-subsidi. Hitung-hitung meringankan beban negara. Hitung-hitung beramal.
Balik lagi ke rasa kasihan itu tadi. Gimana ga kasihan coba? Kita itu kan sama-sama tahu kalau belakangan ini bumi semakin panas, terlebih lagi Jakarta. Kalau naik mobil itu masih mending bisa pasang pendingin. Lah kalau naik motor? Sudah panasnya terik, masih mesti pakai jaket, mesti pake helm SNI, ditambah macet yang kadang-kadang gak masuk akal. Panasnya itu luar binasa loh! Saya gak bohong. Sekalinya ga panas itu kalau cuaca agak-agak mendung. Tapi seringnya kalau sudah mendung itu malah bablas sampe hujan deras. Dan lagi-lagi kita yang naik motor cuma bisa tarik nafas panjang. Syukur-syukur kalau ada jembatan / terowongan, bisa berteduh sebentar. Tapi denger-denger sekarang kalau ada motor yang berhenti di bawah jembatan pas hujan, bakalan kena tilang. Benar ga ya? Gila ga ya? Gila dong ya.
Sudah begitu, saya juga seringkali merasa kok kita-kita ini pengendara motor dianaktirikan banget. Mobil boleh masuk tol, motor mana boleh. Mobil enak ada layanan valet kalau parkir di mal-mal gaul. Motor mana ada. Kalau di lampu-lampu merah juga mobil sering ditawarin majalah-majalah setengah porno, kalau motor mana pernah. Kalau mobil punya jalur cepat, nah motor itu harus puas dengan jalur lambat di sebelah kiri.
Khusus poin terakhir di atas, saya masih tak habis pikir sampai sekarang. Kenapa ya kok yang namanya motor itu harus ada di jalur lambat atau di lajur kiri? Dan biasanya jalur lambat itu lebih sempit daripada jalur cepat. Padahal nih ya, untuk menampung sepeda motor saja jalur lambat itu sudah nyaris tak muat. Eh masih harus dimuat-muatin sama taksi, bajaj, mikrolet, metromini, bus AC, dan mobil-mobil yang ingin belok atau minggir. Semuanya dipaksa masuk di jalur lambat. Edan! Kadang kala saya jadi ingat sama kamp konsentrasinya Nazi kalau lagi naik motor di jalur lambat. Benar-benar dipadatkan, kayak sarden dikalengkan.
Kenapa ya pengendara motor harus dianaktirikan? Padahal sama-sama bayar pajak loh. Sama-sama beli bensin juga. Dan pengendaranya pun sama-sama ciptaan Tuhan. Tujuannya pun sama: pengen sampai suatu tempat! Entah sekolah, kampus, kantor, atau apa pun. Lantas kenapa kita pengendara motor setiap harinya harus menyabung nyawa di "kamp konsentrasi"? Saya itu sering banget ngeri loh sama bus-bus yang kalau lagi jalan goyangannya lebih-lebih dari Inul Daratista. Detik pertama ada di lajur paling kiri. Detik berikutnya tahu-tahu sudah belok ke lajur paling kanan. Belum lagi yang kadang-kadang ngeremnya mendadak. Pokoknya bus itu kalau ngerem dan belok, yang tahu cuma sang sopir dan Sang Pencipta. Lah, kalau sudah begini kan lagi-lagi kami pengendara motor cuma bisa berharap biar gak tersenggol, terserempet, atau terlindas sama bus-bus besar itu.
Ujung-ujungnya sih, mau senaas apa pun nasib jadi pengendara motor, ya mau tak mau akan tetap saya lakoni. Selain masalah keterjangkauan biaya yang sudah saya sebutkan di atas, bagaimana pun naik motor membuat umur saya tidak terbuang lebih banyak di jalan. Kalau naik mobil itu, meski enak dan nyaman, jarak tempuhnya dua sampai tiga kali lebih lama daripada naik motor! Dengan kata lain, kalau naik motor itu seharinya saya bisa menghemat satu jam waktu perjalanan. Seminggunya tujuh jam. Sebulannya tiga puluh jam. Setahunnya tiga ratus enam puluh lima jam. Lumayan juga kan ya? Meski resikonya ya bisa saja suatu saat kami-kami ini tersenggol, terserempet, atau terlindas sama bus-bus besar itu. Dan jam-jam yang sudah kami depositokan tadi pun selamanya tidak bisa kami nikmati lagi. Lalu lagi-lagi kami cuma bisa menghela nafas. Yah.... Mau gimana lagi?
Jakarta, 2 Mei 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(didedikasikan buat para ksatria berhelm SNI)
#Tulisan keempatbelas, hari ketigabelas
Saya itu kadang kasihan sama mereka-mereka yang setiap harinya naik motor. Eh, kalimat pembukanya terlihat sombong ya? Maaf. Ga ada maksud sombong sama sekali, wong saya sendiri juga pengendara sepeda motor kok. Maklum, saya cuma mahasiswa, dan kebetulan saya bukan orang mampu. Orangtua saya sih mungkin saja orang mampu, tapi kan sayanya belum! Ya toh? hehehe. Naik motor itu ya mau nggak mau. Habis gimana? Saya cuma sanggup beli bensin buat motor, motornya saja masih dipinjamkan sama orangtua. Jujur saya belum sanggup kalau disuruh beli bensin buat mobil. Wong beli bensin motor saja sudah ngos-ngosan. Ngasong sana-sini. Ngamen kiri-kanan. Untungnya selama ini masih tercukupi, bahkan rutin membeli BBM non-subsidi. Habis, gimana? Katanya BBM subsidi itu cuma buat orang susah. Ya karena saya gengsi kalau dibilang orang susah, ya saya isi saja dengan yang non-subsidi. Hitung-hitung meringankan beban negara. Hitung-hitung beramal.
Balik lagi ke rasa kasihan itu tadi. Gimana ga kasihan coba? Kita itu kan sama-sama tahu kalau belakangan ini bumi semakin panas, terlebih lagi Jakarta. Kalau naik mobil itu masih mending bisa pasang pendingin. Lah kalau naik motor? Sudah panasnya terik, masih mesti pakai jaket, mesti pake helm SNI, ditambah macet yang kadang-kadang gak masuk akal. Panasnya itu luar binasa loh! Saya gak bohong. Sekalinya ga panas itu kalau cuaca agak-agak mendung. Tapi seringnya kalau sudah mendung itu malah bablas sampe hujan deras. Dan lagi-lagi kita yang naik motor cuma bisa tarik nafas panjang. Syukur-syukur kalau ada jembatan / terowongan, bisa berteduh sebentar. Tapi denger-denger sekarang kalau ada motor yang berhenti di bawah jembatan pas hujan, bakalan kena tilang. Benar ga ya? Gila ga ya? Gila dong ya.
Sudah begitu, saya juga seringkali merasa kok kita-kita ini pengendara motor dianaktirikan banget. Mobil boleh masuk tol, motor mana boleh. Mobil enak ada layanan valet kalau parkir di mal-mal gaul. Motor mana ada. Kalau di lampu-lampu merah juga mobil sering ditawarin majalah-majalah setengah porno, kalau motor mana pernah. Kalau mobil punya jalur cepat, nah motor itu harus puas dengan jalur lambat di sebelah kiri.
Khusus poin terakhir di atas, saya masih tak habis pikir sampai sekarang. Kenapa ya kok yang namanya motor itu harus ada di jalur lambat atau di lajur kiri? Dan biasanya jalur lambat itu lebih sempit daripada jalur cepat. Padahal nih ya, untuk menampung sepeda motor saja jalur lambat itu sudah nyaris tak muat. Eh masih harus dimuat-muatin sama taksi, bajaj, mikrolet, metromini, bus AC, dan mobil-mobil yang ingin belok atau minggir. Semuanya dipaksa masuk di jalur lambat. Edan! Kadang kala saya jadi ingat sama kamp konsentrasinya Nazi kalau lagi naik motor di jalur lambat. Benar-benar dipadatkan, kayak sarden dikalengkan.
Kenapa ya pengendara motor harus dianaktirikan? Padahal sama-sama bayar pajak loh. Sama-sama beli bensin juga. Dan pengendaranya pun sama-sama ciptaan Tuhan. Tujuannya pun sama: pengen sampai suatu tempat! Entah sekolah, kampus, kantor, atau apa pun. Lantas kenapa kita pengendara motor setiap harinya harus menyabung nyawa di "kamp konsentrasi"? Saya itu sering banget ngeri loh sama bus-bus yang kalau lagi jalan goyangannya lebih-lebih dari Inul Daratista. Detik pertama ada di lajur paling kiri. Detik berikutnya tahu-tahu sudah belok ke lajur paling kanan. Belum lagi yang kadang-kadang ngeremnya mendadak. Pokoknya bus itu kalau ngerem dan belok, yang tahu cuma sang sopir dan Sang Pencipta. Lah, kalau sudah begini kan lagi-lagi kami pengendara motor cuma bisa berharap biar gak tersenggol, terserempet, atau terlindas sama bus-bus besar itu.
Ujung-ujungnya sih, mau senaas apa pun nasib jadi pengendara motor, ya mau tak mau akan tetap saya lakoni. Selain masalah keterjangkauan biaya yang sudah saya sebutkan di atas, bagaimana pun naik motor membuat umur saya tidak terbuang lebih banyak di jalan. Kalau naik mobil itu, meski enak dan nyaman, jarak tempuhnya dua sampai tiga kali lebih lama daripada naik motor! Dengan kata lain, kalau naik motor itu seharinya saya bisa menghemat satu jam waktu perjalanan. Seminggunya tujuh jam. Sebulannya tiga puluh jam. Setahunnya tiga ratus enam puluh lima jam. Lumayan juga kan ya? Meski resikonya ya bisa saja suatu saat kami-kami ini tersenggol, terserempet, atau terlindas sama bus-bus besar itu. Dan jam-jam yang sudah kami depositokan tadi pun selamanya tidak bisa kami nikmati lagi. Lalu lagi-lagi kami cuma bisa menghela nafas. Yah.... Mau gimana lagi?
Jakarta, 2 Mei 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(didedikasikan buat para ksatria berhelm SNI)
Minggu, 01 Mei 2011
Sekiranya Saya Orang "...."
Ketikan Pinggir.
#Tulisan ketigabelas, hari keduabelas
Tulisan di atas adalah kutipan dari tulisan Soewardi Soerjaningrat, yang kemudian berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara, pada tahun 1913 menjelang perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis. Bagi beliau, perayaan kemerdekaan itu wajar, tapi masalah muncul ketika Belanda ingin merayakannya di Indonesia (waktu itu masih Hindia Belanda), yang mana merupakan negara dengan kemerdekaan masih dirampas oleh Belanda. Beliau menggugat kewarasan orang-orang Belanda, lebih-lebih ketika rakyat Hindia Belanda diminta menyumbangkan dana untuk perayaan tersebut.
Tulisan berjudul asli "Als Ik eens Nederland Was" tersebut tersebar luas dan sampai ke telinga pejabat Belanda. Soewardi bersama kedua rekannya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, atau lebih akrab dikenal dengan sebutan "Tiga Serangkai" pun lantas diasingkan oleh Belanda. Meski demikian, semangat dari tulisan tersebut tetap tersebar luas dan menginspirasi gerakan pemuda, bahkan hingga bertahun sesudahnya.
Andai saja Soewardi masih hidup sekarang, mungkin ia akan mengganti judul tulisannya menjadi "Sekiranya Saya Anggota DPR". Setengah abad lebih negri ini merdeka, nyatanya laku para petingginya tetap saja di luar alur logika kewarasan. Di saat sebagian besar rakyat Indonesia masih berjuang hidup setengah mati, para anggota DPR malah gigih membangun gedung baru, ngotot plesiran ke luar negeri, dan berkeras mendapat fasilitas super mewah lainnya. Dan sialnya, semua kenikmatan duniawi mereka disumbang oleh rakyat, melalui pajak. Maka bagi saya anggota DPR sekarang tak ubahnya penjajah di masa silam, yang menelanjangi rakyat Indonesia luar dalam, fisik dan psikis, moral dan material. Rakyat yang goyang-goyang maju-mundur-depan-belakang, eh anggota DPR yang orgasme. Sakit!
Sayangnya kita tak punya pilihan. Saat makna demokrasi direduksi menjadi setumpuk uang pendempul popularitas, apa yang kita punya? Tak ada. Mau siapa pun, mau partai mana pun, laku pejabat di negeri ini setali tiga uang. Jika di salah satu paragrafnya Soewardi bisa menulis: "Betapa bahagianya saya. Syukurlah saya bukan orang Belanda.", maka saya tidak bisa menulis itu. Saya orang Indonesia. Saya tidak bisa memilih untuk menjadi bukan Indonesia, dan saya juga tidak bisa pura-pura bahagia melihat kondisi Indonesia.
Sebenarnya saya sudah cukup lama berhenti berharap pada institusi negara. Mereka tidak akan bisa menyejahterakan rakyat. Tidak akan pernah. Karena saya yakin hal pertama yang paling mendasar dalam sebuah organisasi, pun institusi, adalah sumber daya manusianya. Dan di Indonesia hal tersebut masih jauh dari layak. Kita tak pernah punya sarana belajar yang tepat bagi rakyat untuk disiapkan memerintah negara di kemudian hari. Mereka yang hidup melarat dan tahu penderitaan rakyat justru tak terakses pendidikan. Mereka yang terakses pendidikan justru dicetak menjadi budak-budak kapitalis, atau menjadi majikan-majikan kapitalis, bagi yang agak beruntung.
Saya juga selalu berpemikiran untuk suatu saat nanti menyatukan mereka-mereka yang punya idealisme, mereka-mereka yang tidak puas kepada negara, untuk masuk ke lingkaran kekuasaan dan bergerak dari dalam. Sayangnya ternyata hal tersebut juga tak mudah. Kebanyakan dari mereka yang lantang menggonggong justru enggan masuk ke dalam lingkaran kekuasaan negara. Kotor katanya. Kadang saya jadi bingung sendiri. Bagaimana mereka mengharapkan perubahan? Kedatangan Ratu Adilkah? Ah, mak! Gila mereka kalau kata Einstein. Berhadap rutinitas memunculkan hasil berbeda.
Ah, seandainya saja saya orang Belanda, mungkin tak perlu repot-repot memikirkan hal ini. Tapi ya bagaimana lagi. Saya tidak bisa mengatakan saya bukan orang Indonesia. Saya sudah memilih untuk hidup di bumi manusia ini dengan segala persoalannya. Dan kebetulan saya terpelajar, dan mereka yang terpelajar sudah harus baik sejak dalam pikiran. Setidaknya begitulah kata Pramoedya, yang selalu saya yakini benar.
Jakarta, 1 Mei 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(Betul, saya bukan Belanda! Apalagi ganteng dan jago main bola plus punya pacar seksi, itu mah Irfan Bachdim. hehehe)
#Tulisan ketigabelas, hari keduabelas
"Maka jika saya seorang Belanda, saya tidak akan menyelenggarakan perayaan kemerdekaan di suatu negeri di mana kemerdekaan rakyatnya telah dirampas. Bukan hanya tidak adil, melainkan juga salah, memerintah pribumi-pribumi supaya memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Gagasan mempersiapkan peringatan itu saja sudah cukup menghina mereka, dan sekarang kita bahkan merampok isi kantong mereka. Sesungguhnya itu adalah penghinaan secara moral dan material."
("Sekiranya Saya Seorang Belanda", Soewardi Soerjaningrat, dimuat di De Express, 19 Juli 1913.)
Tulisan berjudul asli "Als Ik eens Nederland Was" tersebut tersebar luas dan sampai ke telinga pejabat Belanda. Soewardi bersama kedua rekannya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, atau lebih akrab dikenal dengan sebutan "Tiga Serangkai" pun lantas diasingkan oleh Belanda. Meski demikian, semangat dari tulisan tersebut tetap tersebar luas dan menginspirasi gerakan pemuda, bahkan hingga bertahun sesudahnya.
Andai saja Soewardi masih hidup sekarang, mungkin ia akan mengganti judul tulisannya menjadi "Sekiranya Saya Anggota DPR". Setengah abad lebih negri ini merdeka, nyatanya laku para petingginya tetap saja di luar alur logika kewarasan. Di saat sebagian besar rakyat Indonesia masih berjuang hidup setengah mati, para anggota DPR malah gigih membangun gedung baru, ngotot plesiran ke luar negeri, dan berkeras mendapat fasilitas super mewah lainnya. Dan sialnya, semua kenikmatan duniawi mereka disumbang oleh rakyat, melalui pajak. Maka bagi saya anggota DPR sekarang tak ubahnya penjajah di masa silam, yang menelanjangi rakyat Indonesia luar dalam, fisik dan psikis, moral dan material. Rakyat yang goyang-goyang maju-mundur-depan-belakang, eh anggota DPR yang orgasme. Sakit!
Sayangnya kita tak punya pilihan. Saat makna demokrasi direduksi menjadi setumpuk uang pendempul popularitas, apa yang kita punya? Tak ada. Mau siapa pun, mau partai mana pun, laku pejabat di negeri ini setali tiga uang. Jika di salah satu paragrafnya Soewardi bisa menulis: "Betapa bahagianya saya. Syukurlah saya bukan orang Belanda.", maka saya tidak bisa menulis itu. Saya orang Indonesia. Saya tidak bisa memilih untuk menjadi bukan Indonesia, dan saya juga tidak bisa pura-pura bahagia melihat kondisi Indonesia.
Sebenarnya saya sudah cukup lama berhenti berharap pada institusi negara. Mereka tidak akan bisa menyejahterakan rakyat. Tidak akan pernah. Karena saya yakin hal pertama yang paling mendasar dalam sebuah organisasi, pun institusi, adalah sumber daya manusianya. Dan di Indonesia hal tersebut masih jauh dari layak. Kita tak pernah punya sarana belajar yang tepat bagi rakyat untuk disiapkan memerintah negara di kemudian hari. Mereka yang hidup melarat dan tahu penderitaan rakyat justru tak terakses pendidikan. Mereka yang terakses pendidikan justru dicetak menjadi budak-budak kapitalis, atau menjadi majikan-majikan kapitalis, bagi yang agak beruntung.
Saya juga selalu berpemikiran untuk suatu saat nanti menyatukan mereka-mereka yang punya idealisme, mereka-mereka yang tidak puas kepada negara, untuk masuk ke lingkaran kekuasaan dan bergerak dari dalam. Sayangnya ternyata hal tersebut juga tak mudah. Kebanyakan dari mereka yang lantang menggonggong justru enggan masuk ke dalam lingkaran kekuasaan negara. Kotor katanya. Kadang saya jadi bingung sendiri. Bagaimana mereka mengharapkan perubahan? Kedatangan Ratu Adilkah? Ah, mak! Gila mereka kalau kata Einstein. Berhadap rutinitas memunculkan hasil berbeda.
Ah, seandainya saja saya orang Belanda, mungkin tak perlu repot-repot memikirkan hal ini. Tapi ya bagaimana lagi. Saya tidak bisa mengatakan saya bukan orang Indonesia. Saya sudah memilih untuk hidup di bumi manusia ini dengan segala persoalannya. Dan kebetulan saya terpelajar, dan mereka yang terpelajar sudah harus baik sejak dalam pikiran. Setidaknya begitulah kata Pramoedya, yang selalu saya yakini benar.
Jakarta, 1 Mei 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(Betul, saya bukan Belanda! Apalagi ganteng dan jago main bola plus punya pacar seksi, itu mah Irfan Bachdim. hehehe)
Langganan:
Postingan (Atom)
