Per Januari 2012, blog saya migrasi ke Wordpress ya. Ini tautannya kalau mau mampir (http://okki-sutanto.com), trims! =D
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 November 2011

Harusnya Kamu Mandiri!

Sebelumnya diposkan di Nota Facebook

"Kamu harusnya tahu, aku sibuk! Tidak mudah meluangkan waktu untuk kamu. Kamu kan bukan anak kecil lagi! Harusnya kamu bisa mandiri. Bisa mengurus diri sendiri tanpa perlu tergantung padaku. Awalnya aku merasa hubungan kita memiliki masa depan, tapi jika begini caranya, aku jadi ragu..."

Kalimat itu tak berlanjut, si lelaki kesulitan menahan emosi. Di hadapannya, sang lawan bicara pun hanya bisa terdiam. Sedikit tertunduk sedih. Menyesali diri akan ketidakberdayaannya. Mengutuki nasib yang membuatnya hanya bisa bergantung dan merepotkan orang lain. Tapi apa daya, tak satu kata pun sanggup ia katakan. Kesunyian memenuhi ruangan. Membentuk dinding tebal tak terlihat di antara dirinya dan si lelaki. Mereka hanya bisa saling pandang dengan tatapan kosong penuh kesedihan. Lima menit. Sepuluh menit. Setengah jam. Tak sepatah kata pun bertambah.

Si lelaki berjalan keluar ruangan dengan langkah gontai. Meninggalkan skripsi menangis sendirian. Lagi. Ya, entah untuk keberapa kalinya.


Jakarta, 24 Oktober 2011
Okki Sutanto

Minggu, 08 Mei 2011

Mau Tampar Cermin

Puisi / Prosa
#Tulisan keduapuluhdua, hari kesembilanbelas

Kamu itu...
kalau emang susah kerja di pagi hari,
ya coba dong dicicil dari siang.

Kalau ternyata siang pun belum bisa mulai kerja,
ya coba dong dicicil sorenya.

Kalau ternyata ga cocok kerja sore juga,
ya mau ga mau malemnya harus fokus.

Tapi kalau ternyata kamu itu pulangnya aja udah malem,
gimana kamu mau selesaikan kerjaan yang kamu bikin-bikin sendiri?

Kalau gini kan, saya yang repot.
Sudah otak, mata, dan badan capek, masih saja dipaksa tuntasin kerjaan kamu.

Kalau gini kan, saya bisa-bisa jadi gila.
Dari tadi saja saya udah monolog sendirian di depan cermin.
Malah sosok di cermin itu nyaris saya tampar.

Untungnya ga jadi.
Habisnya saya bingung,
koq kayaknya saya kenal ya sama dia?


Jakarta, 8 Mei 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(belum, saya belum benar-benar gila, jadi jangan senang dulu)

Jumat, 06 Mei 2011

Memangnya Kenapa?

Sebuah Prosa
#Tulisan ketujuhbelas, hari ketujuhbelas

Memangnya kenapa,
kalau saya ingin jadi orang jahat?

Bukankah orang baik itu sudah banyak bertebaran,
dan dunia ini belum juga membaik?

Memangnya kenapa,
kalau saya ingin jadi orang sombong?

Bukankah semua orang diajar untuk jadi rendah hati,
dan nyatanya kompetisi itu tetap saja ada?

Memangnya kenapa,
kalau saya ingin jadi tukang bohong?

Bukankah ketika kejujuran diagungkan,
tetap saja tidak membawa kita kemana-mana?

Iya kan?
Jadi gak apa kan, saya jadi jahat, sombong, dan pembohong?

Dan ketika nanti saya ingin menjadi baik, rendah hati, dan jujur,
Memangnya kenapa?

Bukankah dunia akan menjadi lebih baik,
ketika kita tidak menciptakan dua kutub,
dan dua warna saja?

Lantas....
Kenapa?


Jakarta, 6 Mei 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(Gak kenapa-kenapa kok)

Rabu, 04 Mei 2011

Malam Masih Panjang

Sebuah Prosa.
#Tulisan keenambelas, hari kelimabelas

Malam masih panjang,
terlalu cepat untuk berdoa
Sang Pencipta mungkin belum pulang
masih sibuk mengurusi yang hidup

Malam masih panjang,
terlalu cepat untuk menyudahi cerita
dengan titik yang kamu ciptakan sendiri
saat koma sebenarnya masih menanti giliran tampil

Malam masih panjang,
terlalu cepat memvonis langit
dan membenci pekatnya
saat bintang masih berdandan di ruang ganti

Malam masih panjang,
terlalu cepat untuk tidur
saat lampu baru mulai benderang
dan mengajak kita menari bersama di babak penghabisan

Malam
masih
panjang

J-a-d-i

Ya
dinikmati
saja...


Jakarta, 4 Mei 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(bohong deh, malam makin memendek)

Kamis, 28 April 2011

Ketika Akhirat pun Outsourcing

Cerpen.
#Tulisan kesepuluh, hari kesembilan.
(Pengantar: dibutuhkan latar belakang Psikologi yang kuat untuk memahami cerpen ini)

Alkisah, dunia akhirat kelabakan. Ujung tombak operasional mereka, Pengadilan Terakhir, keteteran menghadapi arwah-arwah yang mengantri minta diadili. Setiap hari makin banyak orang yang meninggal, sementara divisi Sumber Daya Malaikat (SDM) belum membuka lowongan bagi malaikat pengadil baru. Chaos! Kini satu malaikat pengadil bisa melakukan FGD sekaligus ke 10 arwah. Lantas dalam satu jam verbatim sudah harus diketik, data sudah harus dikoding, disusul analisis dan kesimpulan: "masuk mana arwah-arwah tadi, surga atau neraka?"

Manajer SDM pun mengambil kebijakan sensasional: outsourcing! Kebetulan belum lama ini segelintir penghuni surga mendirikan Biro Pengukuran Psikologi (BPP). Meski mahal, tapi tetap lebih efektif dibanding merekrut malaikat pengadil baru dan mengirim mereka ke berbagai training dan workshop, sebelum akhirnya menjadi tenaga siap pakai. Kesepakatan pun dihasilkan: "Mulai besok, semua proses pengadilan terakhir & penentuan nasib para arwah menjadi tanggung jawab BPP"

Perdebatan hebat terjadi di internal Biro Pengukuran Psikologi (BPP). Pendekatan mana yang harus dipilih? Kuantitatif, atau kualitatif? Karena keterbatasan waktu, akhirnya mereka memilih kuantitatif. Masing-masing arwah diminta mengerjakan Tes Kesucian Dasar. Ada lima domain dan tiga puluh indikator di dalamnya, yang secara keseluruhan ingin mengukur tingkat kesucian seseorang. Expert judgment dilakukan ke tiga tokoh yang dianggap sangat suci: Bunda Teresa, Paus Yohanes Paulus II, dan Gandhi. Uji validitas lolos. Uji reliabilitas pun lolos setelah menghilangkan beberapa item yang dirasa memiliki derajat kesulitan terlalu tinggi: 0.1.

Alat tes diadministrasikan klasikal, langsung ke seratus arwah sekaligus. Cukup menghemat waktu, antrian arwah semakin cepat dipangkas. Setelah hasil tes diskoring, keseratus arwah diurutkan dari yang skornya terendah ke tertinggi. Permasalahan pun muncul: norma belum ada. Tidak ada cutting point yang jelas. Mereka yang skornya 70 ke atas bisa langsung dikirim ke surga. Mereka yang skornya di bawah 30 dikirim ke neraka. Lantas, bagaimana dengan mereka yang berada di tengah kurva normal, antara Z-Score -0.5 dan +0.5? Apa yang membedakan mereka yang ada di persentil 49 dan persentil 51? Mengapa skor setipis itu bisa membedakan nasib mereka ke depannya? Perbedaan pendapat pun tidak terselesaikan. Pendekatan kuantitatif gagal.

Dalam waktu singkat mereka beralih ke pendekatan kualitatif. Panduan FGD disusun, sekaligus manual berisi rating dan cara penilaian. Dalam melakukan FGD, tiga praktisi BPP menghadapi sepuluh arwah. Setelah FGD selesai, mereka melakukan kalibrasi untuk menguji inter-rater validity. Boom! Masalah baru muncul: definisi teoritis mereka tentang kesucian berbeda, sesuai aliran mereka. Ada yang beraliran humanis, ada yang behaviorisme, ada yang psikodinamis. Perbedaan standar tidak terjembatani. Pendekatan kualitatif bubar jalan.

Setelah kurang lebih seminggu tidak menemukan solusi, Guru Besar di BPP pun memberi usul untuk menggunakan kedua pendekatan sekaligus, kuantitatif, dan kualitatif. Skor di kedua tes dianalisa dan diukur pengaruh multivariatnya. Dengan bantuan aplikasi Lisrel versi terbaru, analisis dimudahkan. Data dimasukkan, lantas hasil keluar. SURGA. NERAKA. SURGA. NERAKA.

Semua berjalan cukup lancar, hingga suatu saat ada "kecelakaan". Seorang yang sudah dinyatakan gagal ditolak ke neraka, baik oleh pendekatan kuantitatif maupun kualitatif, malah dimasukkan ke surga oleh Dewan Agung Pengadilan Terakhir. Praktisi BPP gerah. Mereka merasa kerja keras mereka tidak dihargai. Setelah dikonfirmasi ke Dewan Agung, ternyata orang tersebut memang semasa hidupnya adalah pendosa berat. Namun, tepat sebelum kematiannya, orang tersebut menyatakan bertobat. Hal itu membuatnya pantas dimasukkan ke surga. Praktisi BPP tetap tak terima. Debat runcing tak terelakkan. Kerja sama berakhir. Izin praktik BPP pun dicabut oleh Dewan Agung.

Setahun ternyata cukup untuk membuat BPP berbenah diri. Setelah sekitar setahun vakum dari surga, mereka membuka kantor baru di neraka. Kini fokus mereka tidak lagi ke pengukuran, melainkan ke konseling dan bimbingan arwah. Mereka yakin, arwah pun memiliki kesempatan yang sama untuk berubah dan menjadi lebih baik. Mereka mulai mendekati arwah-arwah jahat, dan menyadarkan mereka, satu per satu. Setelah penuh perjuangan, usaha mereka terdengar hingga ke telinga orang nomor satu di dunia akhirat. Terkesima dengan usaha mereka, sang presiden dunia akhirat mengeluarkan dekrit: "Semua penghuni neraka yang sudah mengikuti program konseling selama setahun dan menunjukkan perubahan perilaku menjadi lebih baik, berkesempatan dipindahkan ke surga.". Satu per satu penghuni neraka pun termutasi ke surga.

Tak lama kemudian, neraka bangkrut. BPP semakin dikenal dan diakui jasanya. Kantor cabangnya semakin banyak, hingga ke bumi. Karena mereka yakin, pada dasarnya setiap orang memiliki kualitas personal yang baik dalam diri masing-masing. Yang membedakan hanya lingkungan tempat mereka dibesarkan, agama tempat mereka disangkarkan, dan sederet faktor situasional lainnya. Maka tak adil rasanya mengevaluasi mereka di Pengadilan Terakhir dengan mengacuhkan peranan faktor situasional. Sekali lagi, mereka yakin setiap orang itu pada dasarnya baik. Setiap orang bisa menjadi baik. Hanya saja kita kerap tidak menyadarinya. Juga enggan disadarkan.


Jakarta, 28 April 2011
Okki Sutanto | octovary.blogspot.com
(beneran berencana buka BPP di neraka)

Rabu, 27 April 2011

Kangen.

Prosa.
#Tulisan kesembilan, hari kedelapan.

Aku tiba di ruangan 2X3 tempatmu melukis hari.
Hanya ada kamu di dalamnya.
Entahlah, mungkin ada perabot lain juga.
Tapi di mataku hanya ada kamu.
Cuma mau kamu.

Kita pun mengeluarkan peliharaan kesayangan kita: kangen.
Kita biarkan kangen kita bersahutan.
Punyaku dan milikmu.
Bergulat hebat.
Tak terbedakan lagi mana kangenku mana kangenmu.

Ciuman pertama kita di sore itu.
Tidak ada waktu untuk menikmatinya.
Karena yang kedua, ketiga, dan berikutnya langsung menyambar tanpa jeda.
Kita tak membiarkan jeda hadir.
Sudah terlalu sering jeda meraja, antara ruang kerjaku dan panggungmu.

Sore itu pemikiranku dan tarianmu tak perlu tampil.
Izinkan mereka beristirahat, biarkan kangen menikmati kedigdayaannya.
Menguasai kita.
Memeras ruang sunyi di antara kita.
Sampai habis tak bersisa.


Jakarta, 27 April 2011
Okki Sutanto | octovary.blogspot.com
(Terinspirasi salah satu prosa dalam "Filosofi Kopi"-nya Dee)

Gunting

Prosa.
#Tulisan kedelapan, hari kedelapan.

Sebuah gunting
tak selalu harus
dikawinkan dengan
pupusnya harap

kadang
ia
hadir
di
awal

Saat memutus sempurna sebuah pita merah,
satu roda penghidupan baru pun terawali

Saat membuka ujung sebuah bungkus makanan,
satu perut lapar pun terisi

Pun tak pernah ia absen,
di ruang operasi.

Karena amputasi jelas membutuhkannya.
Untuk merelakan organ yang busuk,
dan menyelamatkan pemiliknya
sebelum ikut membusuk


Jakarta, 27 April 2011
Okki Sutanto | octovary.blogspot.com
(Satu tulisan lagi, dan saya bisa menggunting garis kematian)

Senin, 25 April 2011

Besok!

Fiksi.
#Hari-Keenam menepati janji menulis satu tulisan per hari 

Tiga tahun lalu.
Ia mengaku memiliki cinta, untukku.

Aku ragu ia sungguh memilikinya. Kami baru kenal beberapa minggu. Berawal dari saling sapa di lorong sekolah, kadang kami mengobrol. Kami sama-sama penghuni pertama gedung sekolah setiap harinya. Alasanku: rumahku jauh, dan daerah rawan macet. Berangkat pukul lima, aku akan tiba pukul enam di sekolah. Terlambat berangkat lima belas menit, bisa-bisa pukul delapan aku baru tiba. Sederhana bukan? Alasan dirinya lebih sederhana lagi. Suatu hari ia salah melihat jam, dan datang kepagian ke sekolah. Semenjak "kecelakaan" itulah ia jadi rajin datang pagi ke sekolah, menunggangi motor kesayangannya. Biar tidak kena macet, kilahnya. Belakangan, baru ia akui, akulah alasan dirinya selalu datang pagi ke sekolah.

Dua tahun lalu.
Ia bilang masih menyimpan cinta, untukku.

Aku masih ragu. Aku tahu, kami sudah cukup akrab. Semangkok bubur ayam hangat di meja kantin menjadi saksi bisu setiap harinya. Pun setumpuk surat cinta darinya di lokerku. Juga ratusan tiket bioskop dan puluhan buku yang kami nikmati bersama. Kami suka membunuh waktu bersama. Dengan indah, tentunya. Berdua. Tapi aku ragu, bahwa ruang bening berjarak di antara kami itu betul-betul cinta. Aku rasa ia hanya butuh seorang teman. Dan aku rasa aku teman terbaiknya. Untuk apa bertaruh memulai sesuatu yang bisa berakhir menyakitkan? Jika tanpa itu pun aku masih bisa dekat dengannya. Mereguk manisnya.

Tahun lalu.
Ia nyatakan lagi cintanya, tanpa kata-kata.

Ia melepas tawaran beasiswa dari universitas di kota sebelah. Ia memilih tetap di Jakarta, di tempatku ingin merajut masa depan. Tapi sejentik keraguan lain kini menggoyahkan harapanku. Di depan kami akan ada lembaran kehidupan yang baru. Bukankah kini dunia akan berputar lebih cepat, dan aku dengan segera akan menjadi lembaran kenangan lama baginya? Aku lebih memilih menjadi kenangan yang indah, abadi, dengan tetap sebagai sahabatnya. Dibanding menjadi kenangan yang lebih indah, namun berpotensi tak kekal.

Besok.
Giliranku menyatakan cintaku. Aku mencintainya. Lebih dari sekedar ribuan pelukan hangat seorang sahabat. Lebih dari ratusan kalimat-kalimat penopang kesedihan. Lebih dari puluhan momen di mana aku merasa tak kuat lagi menjadi sekedar sahabat, namun hati dan bibirku tak pernah berharmoni seutuhnya.

Aku mencintainya. Sesederhana itu. Seabsolut itu. Dan besok akan aku curahkan semua perasaanku. Tentang kesempurnaannya yang membuatku ingin berada di sisinya. Sekaligus tentang ketidaksempurnaannya yang juga membuatku ingin berada di sisinya.

Besok, aku akan menyatakan cintaku padanya. Tak noleh ada lagi keengganan bibir untuk berucap. Tak boleh ada lagi keraguan hati untuk bersikap. Tak boleh. Karena besok adalah kesempatan terakhirku. Aku tahu itu.

Karena di saat petinya tertutup sempurna, dan tanah segenggam mulai menutupi liangnya, kami akan berpisah. Juga saat amin terucap dan air mata keluarganya menderas kembali, saat itu pula namanya terhapus dari dunia ini selamanya. Kosa kata itu akan terhapus tanpa jejak dari semua kamus di kehidupanku.

Semoga pernyataan cintaku besok belum terlambat.
Aku yakin ia masih mendengar.
Iya kan, sayang?


Jakarta, dimulai 4 Februari 2011, diselesaikan 25 April 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(Berusaha tak melulu berharap pada esok)

Minggu, 24 April 2011

Tiket Sekali Jalan

Fiksi.
#Hari-Kelima menepati janji menulis satu tulisan per hari

Seringkali cinta tak ubahnya tiket pulang-pergi.
Setelah puas membawa kita bertualang,
ke hamparan padang kebahagiaan, bukit kedamaian, dan pantai pengharapan,
Ia akan mengembalikan kita.
Ke tempat asal kita bernama realita, ke kesendirian kita.

Sebenarnya kita sudah diberitahu, bahkan memilih sendiri, dengan sadar.
Saat kita menyobek tiket keberangkatan, seketika pula kita menyimpan erat tiket kepulangan.
Namun seringkali kita berusaha mengacuhkannya.
Segenap tenaga membuaikan diri dalam indah perjalanan.
Dan di saat tiket itu perlahan menyelip keluar dari saku, kita gopoh memasukkannya kembali.

Pada akhirnya, sang tiket mencuat seutuhnya, mendeklarasikan kuasanya.
Sontak perjalanan usai, kita dipaksa pulang.
Sekuat apa pun kita berontak, kuasanya absolut, tak terelakkan.
Pilihannya hanya dua: membuatnya mudah atau membuatnya sulit.
Dan itu pun hanya proses, karena akhirnya jelas: kita kembali ke realita, kembali ke kesendirian.

Kita terhempas.
Sesenggukan menahan kecewa, meronta melepas amarah.
Tapi selintas kemudian, akan kita cari lagi tiket pulang-pergi itu.
Mungkin destinasi lama, mungkin juga baru.
Semua tergantung perjalanan sebelumnya, lebih tepatnya akhir perjalanan sebelumnya.

Dan meski konon menyebutkan adanya tiket sekali jalan, aku pongah percaya.
Aku tak pernah menemukannya, pun tak berharap suatu saat akan menemukannya.
Bagiku semua tiket keberangkatan memiliki pasangannya: kepulangan.
Karena tidak ada perjalanan yang kekal.
Dan tiket kepulangan bisa saja berbentuk apa pun, termasuk maut.

Jakarta, 24 April 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(Belum berusaha menggenggam tiket apa pun)

Sabtu, 23 April 2011

Saat Malam Membunuh Teman-temannya.

Prosa.
#Hari-Keempat menepati janji menulis satu tulisan per hari

Pagi datang, saat Malam belum tuntas bergegas.
Sebenarnya Malam belum rela beranjak.
Ia masih ingin bercinta dengan cahaya bulan, terang bintang, dan nyanyian burung hantu.
Tapi Malam tak punya pilihan. Pagi sudah tiba.

Malam menyimpan iri, terhadap Pagi yang selalu muncul setelahnya.
Memaksanya menyudahi giliran.
Merebut perannya.
Menghapus jejaknya.

Ia ingin seperti Pagi.
Menyaksikan manusia memulai aktivitas.
Ditemani kicauan burung gereja, cahaya matahari, dan biru langit.
Tapi Malam tak punya pilihan. Ia bukan Pagi.

Suatu saat, Malam membunuh Pagi.
Kini ia memiliki seperempat hari sebagai tambahan waktu.
Ia bahagia setengah mati.
Tak ada lagi Pagi yang menyudahi gilirannya.

Tapi tak lama Malam kembali meradang.
Kini ia menghujat siang, juga sore.
Ia ingin pula menyaksikan manusia di tengah kesibukan mereka.
Ditemani terik matahari, panas udara, dan indahnya awan.

Malam pun membunuh siang, sekaligus sore.
Kini ia merajai hari.
Tanpa perlu berganti peran.
Berbagi giliran.

Malam terus menguasai hari.
Hingga ia kelelahan.
Ia sudah bosan bercinta dengan bulan, bintang, dan nyanyian burung hantu.
Ia sudah muak melihat manusia dengan segala kesibukannya.

Malam pun memutuskan ingin bunuh diri.
Ia tak sanggup lagi.
Tapi ia lupa, ia tak bisa.
Saat ia membunuh Pagi, sebenarnya saat itu pula ia sudah mati.


Jakarta, 23 April 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(Bergegas ke gereja, bersama MALAM)

Jumat, 22 April 2011

Bom Gereja

Cerita Pendek.
#Hari-Ketiga menepati janji menulis satu tulisan per hari

Jarum pendek tepat menghujam angka tiga, saat pastor mengumandangkan bahwa Yesus telah wafat. Dalam sekejap satu per satu umat berlutut. Udara larut dalam keheningan. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Pada detik kedelapan, tepat di saat umat bersiap untuk berdiri, dentuman keras terdengar. Asap mengepul. Orang-orang berteriak, entah kesakitan, panik, atau ketakutan. Di saat seperti inilah insting naluriah menunjukkan peringai aslinya. Semua umat berdiri, berlari sekuat tenaga menuju gerbang keluar terdekat. Tak ada lagi yang peduli akan prosesi liturgi. Ribuan orang membuncah keluar gereja, mulai dari umat, petugas tata laksana, misdinar, imam, hingga pastor kepala.

Semua sibuk berusaha menyelamatkan diri. Salib di atas altar pun kehilangan daya magisnya memusatkan konsentrasi dan menenangkan umatnya. Aku tetap duduk. Di tempat dudukku sedari awal. Tak beranjak sama sekali. Aku memperhatikan semua detil dengan seksama, dengan perasaan berdebar, dengan konsentrasi penuh, hingga seakan-akan semua berjalan sangat lambat. Aku tak perlu takut dianggap aneh karena tidak berusaha menyelamatkan diri, aku yakin di saat seperti ini semua orang tak sanggup memikirkan apa pun kecuali tentang keselamatan dirinya sendiri.

Aku menutup mata, berlutut, mulai memanjatkan doa. Aku berharap tidak ada yang terluka, bahkan tewas, saat semua umat berhimpitan keluar dari gereja. Itu saja. Karena aku yakin, ledakan itu sendiri takkan melukai siapa pun. Bom meledak di dalam ruangan tak terpakai di belakang goa maria. Daya ledaknya pun tidak besar, meski asap yang ditimbulkannya memang dibuat seolah bom tersebut mampu meruntuhkan gedung bertingkat. Sudah cukup, sekedar untuk menakuti umat satu gereja.

Saat lautan umat yang saling berdesakan keluar mulai surut, aku ikut beranjak keluar dari gereja. Menghilang dalam lautan umat yang masih diselimuti cemas dan takut. Sejurus kemudian aku sudah tiba di rumahku, langsung menyalakan televisi. Benar saja, berita tersebut langsung muncul menjadi headline news di stasiun-stasiun televisi nasional. Pemadam kebakaran, polisi, dan tim Gegana sudah tiba di lokasi. Berbagai foto dampak ledakan disorot berulang-ulang. Saat pembawa berita mengumumkan tidak adanya korban luka maupun jiwa, aku menghembuskan nafas panjang. Bersyukur. Televisi pun aku matikan.

Senyum tersimpul. Semua berjalan sesuai rencana. Besok, peristiwa tadi akan menjadi berita terhangat seantero negeri. Semua petunjuk yang bisa mengarah pada keterlibatanku sudah terhapus tanpa jejak. Aku yakin dalam beberapa hari polisi akan putus asa. Dan seperti biasa, mereka akan menciptakan tokoh-tokoh rekaan untuk dijadikan kambing hitam. Seorang ekstremis, anggota jaringan teroris internasional, dan berbagai embel-embel yang kelihatan nyata, padahal tidak. Untungnya, media dan masyarakat sedemikian mudahnya mempercayai karangan tersebut. Mereka lebih memilih keberadaan seorang tokoh antagonis, tanpa perlu tahu apakah tokoh tersebut benar-benar ada atau tidak, dibandingkan dibiarkan terus menerka, siapa yang patut dipersalahkan dari kejadian tersebut.

Semua akan lebih percaya pada hasil karangan polisi, tak peduli seberapa absurd dan minim verifikasinya karangan tersebut. Siapa yang percaya, kalau bom tersebut tak lebih dari sekedar ungkapan kekecewaan sang pelaku terhadap gerejanya sendiri? Gereja yang telah terlalu memegahkan diri, dan kehilangan kekhusyukannya sama sekali. Gereja yang terlalu mementingkan ukiran-ukiran indah di sekujur tubuhnya sendiri, dan mengacuhkan keimanan pengunjungnya. Gereja yang sudi repot-repot memasang pendingin ruangan, proyektor, hingga sound-system canggih nan mahal, meski harus mengorbankan kesakralan pemaknaan iman umatnya sendiri. Gereja yang sudah terlalu menyamankan fisik penggemarnya, hingga tak pantas lagi mengenang kesederhanaan anak manusia yang mereka salib dan teladani secara bersamaan.

Semoga saja, usahaku kali ini membuahkan hasil. Mungkin ledakan kecil ini bisa lebih efektif dibandingkan ratusan surat yang sudah kulayangkan sebelumnya ke para petinggi gereja. Jika masih belum berhasil juga, mungkin usaha berikutnya akan melibatkan sedikit darah. Sebagaimana yang telah diteladankan oleh Ia yang tersalib, kadang pengorbanan itu penting, untuk suatu kebaikan yang lebih besar. Dan jelas, tak perlu mengorbankan banyak orang, sebagaimana yang sudah diteladankan oleh Ia yang tersalib, korbankanlah pertama-tama dirimu sendiri. Darahmu sendiri. Nyawamu sendiri. Imanmu sendiri. Amin.

Jakarta, 22 April 2011
(sama-sekali-tidak-berencana-merakit-bom)

Sabtu, 26 Maret 2011

Pasti

Luka itu pasti sembuh.
Entah kapan.
Ia hanya akan sekedar mampir. Tak tinggal.

Luka itu pasti mengering.
Entah bagaimana.
Ia hadir untuk menguatkan. Bukan membunuh.

Luka itu pasti proses.
Yang telah kupilih.
Di puncak kewarasan.

Jakarta, 26 Maret 2011

Jumat, 25 Maret 2011

Sungguh!

Tidak sulit memahami cinta.
Dan tahu kapan harus merelakan.
Sungguh.
Ketika ia mulai melahapmu sepenuhnya,
Maka hentikan. Sungguh.

Tidak sulit mematahkan harap.
Dan tahu kapan harus kembali.
Sungguh.
Ketika ia kehabisan ruang bernafas,
Maka lanjutkan. Sungguh.

Jakarta, 25 Maret 2011

Kamis, 06 Januari 2011

(Cerpen) Seharusnya Terbakar!

Cerpen I / 2011.
Gambar dari SINI

Saat lampu bioskop kembali menyala, aku hanya bisa ternganga.
Entah apa dosaku, tak diragukan lagi barusan adalah film tergoblok yang pernah aku tonton sepanjang hidupku.
Begitu banyak cerita dan detil di dalam film barusan yang membuat logika siapapun yang menontonnya bengkok sempurna. Sialnya, aku sendirian. Pikiranku tertelan pusaran kekaguman dan ketakjuban semua penonton lainnya.

Seorang wanita rela dijadikan vampir hanya demi seorang lelaki yang baru saja dikenalnya?
Bagi mereka itu sangat menyentuh, bagiku: idiot dan menyedihkan!

Seorang manusia serigala bisa mengendalikan kapanpun mereka ingin berganti wujud antara manusia dan serigala?
Bagi mereka itu fleksibel, bagiku: tolol dan tak berdasar!

Sekelompok vampir hidup bahagia dan menjadi siswa abadi di sebuah sekolah tanpa diketahui siapa pun?
Bagi mereka itu normal, bagiku sangat menginjak nalar!

Ah, cukup sudah segala ketololan film tersebut!
Salahku juga sebenarnya.
Seharusnya aku sudah tahu film ini akan seperti apa, karena aku pernah membaca ulasan dari novel seri tersebut. Jauh sebelum keempat novel ini difilmkan.
Andai saja Karina tidak memaksaku menonton film ini, pasti aku takkan sudi merogoh kocek sebanyak lima puluh ribu rupiah di loket bioskop ini dua jam yang lalu.

Ia membuatku tak mempunyai pilihan.
Sudah terlalu sering aku menolak ajakan Karina pergi.
Ia bilang aku gila, karena terlalu mencintai rumah dan kamarku sendiri.
Ia bilang aku harus menonton film ini, karena aku terlalu skeptis akan hal-hal berbau mistis, khususnya vampir.
Well, aku kira manusia waras manapun justru akan makin skeptis setelah menonton film ini.
Setelah berhasil memojokanku, akhirnya aku mengiyakan ajakannya untuk menonton malam ini.

Sepulang dari mengantar Karina ke rumahnya, aku pulang dan menyendiri di balkon rumahku.
Sejujurnya, aku sangat suka menghabiskan waktu dengan Karina.
Setiap kali Karina mengajakku pergi, dengan terpaksa aku harus menolaknya.
Sangat berat memang, namun apa daya.
Karina selalu enggan untuk bepergian di malam hari.
Sedangkan aku tak mungkin keluar rumah di siang hari.

Aku benci sinar matahari!
Sesaat setelah cahaya matahari menyentuhku, aku akan terbakar.
Percayalah, itu yang akan terjadi pada semua vampir, termasuk aku.
Terbakar, hangus, dan lenyap selamanya dari muka bumi.
Bukan sekedar menjadi berkilauan kulitku.
Seperti di film tolol itu.


Jakarta, 6 Januari 2011
Okki Sutanto
Hore, ada progres buat Resolusi Tahun 2011!
[Sumber inspirasi: Posting Tukang Review]

Minggu, 26 Desember 2010

(Cerpen) Lima Detik.

LIMA DETIK.

Andai saat itu aku diberi sedikit waktu.
Cukup sedikit, barang sepuluh detik.
Tidak, bahkan cukup lima detik!
Untuk menjaga kewarasanku, untuk mencegah si sehat pergi dari akalku.
Sayang, lima detik nyatanya terlalu berharga untuk kumiliki saat itu.


Andai aku diberi lima detik, mungkin aku tak perlu mendekam dalam sel terkutuk ini selama lima tahun.
Sel yang busuk luar-dalam, atas-bawah, kiri-kanan.
Dengan kecoa busuk, para tahanan bejat, juga para penjaga lapas bangsat!

Lima tahun sudah aku mengutuki lima detik yang tak pernah kumiliki itu.
Lima detik yang seharusnya kupakai untuk menahan semua hasrat dengki dan letusan kemarahan.
Bukan justru menghabisi Yati dan Dhani, istri beserta sahabatku sendiri, yang tertangkap basah sedang tidur di kamar rumahku.

Pukul 1 siang.
Tak lama setelah jam makan siang, aku melangkahkan kaki keluar dari tempat terkutuk ini.
Udara bebas, katanya. Yang bagiku nyatanya tak sebegitu bebasnya.
Siapa aku, yang telah kehilangan lima tahun terakhir dari dunia ini?
Lembaga pemasyarakatan katanya? Rasanya aku semakin dijauhkan dari masyarakat.
Harta? Habis untuk mengurus pengadilan sialan itu.
Keluarga? Tak ada lagi yang menganggap aku keluarga setelah aib yang menggegerkan kampung itu.

Tak apalah, usiaku masih belum terlalu tua untuk memulai kehidupan baru, di tempat baru.
Setidaknya kali ini aku memiliki ribuan bahkan jutaan detik, yang bisa kugunakan sebaik mungkin.
Karena aku selalu percaya, lima detik saja sebenarnya cukup untuk membuat orang menggunakan akal sehatnya.

Namun rupanya itu tak berlaku bagi semua orang.
Herman, kakak Yati, sudah menungguku tak jauh dari gerbang lapas.
Tanpa basa-basi ia menghujamkan pisau tajamnya ke tubuhku belasan kali.
Bajuku bak kanvas merah dibuatnya.
Melihatku terkapar meregang nyawa, ia lari.

Lima detik ternyata tak cukup untuk Herman menggunakan akal sehatnya.
Bahkan lima tahun! Masih tak cukup.

Di penghujung nafas, aku bersyukur siang itu tidak hujan.
Terkapar meregang nyawa, aku masih bisa melihat biru langit untuk terakhir kalinya.
Tak lama, hanya lima detik.
Sebelum mataku tertutup selamanya.

Hanya lima detik.
Yang akhirnya kumiliki.


Jakarta, 22 November 2010
Okki Sutanto.

Minggu, 20 Juni 2010

(Cerpen) Andai Gelas Itu Tidak Tumpah






Andai Gelas Itu Tidak Tumpah. 
Jika Andre tidak menumpahkan gelas ke kemeja Bob, mungkin Bob tidak perlu mengganti pakaian terlebih dahulu sebelum ke kantor. Mungkin Bob juga tidak perlu ngebut agar tiba tepat waktu di kantor. Apa daya, karena telat Bob mengebut tanpa mempedulikan keselamatan pengendara lain. Hal ini membuat Charlie kesal, dan ikut terpancing untuk ngebut juga. Tidak sengaja, mobil Charlie menyerempet motor Dhani. Tidak parah memang, tapi cukup untuk membuat Dhani telat mengantarkan barang ke klien hari itu: Evan.

Evan pun marah, karena paket barang yang harusnya ia terima pukul 11, molor menjadi pukul 12. Ia jadi harus merombak ulang jadwal pengiriman barang tersebut ke pembeli-pembeli lainnya. Saking sibuknya, Evan lupa untuk menjemput anaknya, Fina, yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Fina terpaksa bermain sendiri setelah jam sekolah berakhir. Bu Ghea, yang melihat hal tersebut, memutuskan untuk menemani Fina sampai ia dijemput. Akhirnya pukul 2 Fina baru dijemput. Bu Ghea pun baru bergegas pulang ke rumahnya, naik kendaraan umum.

Andai Bu Ghea tidak naik metromini pukul 3, mungkin ia tidak harus bertemu dengan Herman, sang pencopet. Namun tepat sebelum Herman turun dari metromini, Bu Ghea sadar dompetnya sudah dicopet, hingga ia meneriakkan copet ke arah Herman. Herman pun panik, tapi ia berhasil kabur karena di samping metromini kawannya sudah menunggu dengan sepeda motor. Untunglah Ismet, seorang polisi, kebetulan sedang berpatroli. Adegan kejar-kejaran antara copet dan polisi itu pun tidak terelakkan. Kemacetan terjadi karena banyak yang ingin melihat kejadian seru tersebut. Banyak yang merasa kejadian itu menarik, kecuali James, yang hanya bisa menyumpah serapahi kemacetan yang di sore hari itu. Meeting penting bersama klien pukul 5 pun tidak bisa ia tepati. Seluruh persiapan yang sudah dibuatnya menjadi sia-sia.

Di saat yang tidak pas itu, istrinya menelepon, sekadar untuk menanyakan kabar. James tanpa berpikir panjang melampiaskan kekesalannya ke sang istri. Ia membawa-bawa segala urusan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kegagalannya bertemu dengan klien. Karina, sang istri, sangat terpukul. Ia pun menelepon Lina, anaknya, untuk cepat-cepat pulang ke rumah dan menemaninya. Lina yang bisa merasakan kesedihan ibunya, langsung memutuskan untuk pulang dari rumah Mentari, sahabatnya.

Mentari, yang sebelumnya berencana ke toko buku bersama Lina, akhirnya minta diantar oleh kakaknya, Nando. Nando pun mengiyakan permintaan adiknya tersebut. Mana ia sangka di saat yang sama, Oktavia, sang pacar, minta ditemani ke mal. Nando pun dengan halus menolak ajakan tersebut. Oktavia marah, ia merasa Nando selalu saja beralasan dan tidak pernah perhatian padanya. Ia memutuskan telepon, lalu menangis di kamar. Ia tidak memberi makan Pingki, kucing liar yang suka tidur di depan pagar rumahnya. Pingki pun mencari makan di tempat sampah, di mana seekor kucing liar lainnya juga sedang mencari makan, sebutlah kucing liar tak bernama itu: "Q". Pingki dan Q berebut makanan, mereka pun saling cakar. Risa, anak kecil yang kebetulan melihat kejadian tersebut, mencoba menyiram keduanya dengan air agar tidak berantem. Kedua kucing tersebut kaget dan menyakar tangan Risa.

Risa pulang ke rumah dengan tangan berdarah. Ia langsung menelepon Ibunya, Safiah, yang sedang lembur di pabrik. Ibunya panik mendengar anak kesayangannya itu menangis. Safiah langsung memutuskan untuk pulang. Ia lupa mematikan panel listrik di bagian Pengepakan. Padahal kapasitas listrik di pabrik itu terbatas, sehingga masing-masing bagian harus bergantian memakainya. Saat Taksono, pegawai bagian Produksi menyalakan panel listrik, terjadilah korsleting. Kebetulan, api bermula di sekitar gudang. Kebetulan pula, saat itu banyak material mudah terbakar sedang disimpan di gudang. Dalam waktu 1 jam, pabrik tersebut ludes dimakan si jago merah. Safiah sama sekali tidak sadar bahwa ia yang menyebabkan itu semua. Ia justru merasa beruntung, sedang tidak di pabrik saat kejadian itu terjadi. Ia menganggap Risa telah menyelamatkan nyawanya. 

Safiah tidak perlu memikirkan kerugian yang ditanggung pabriknya. Ia tak perlu memikirkan nasib puluhan karyawan yang meninggal karena kebakaran tersebut. Mungkin memang itu bukan salah Safiah. Mungkin kejadian ini memang sudah ditakdirkan.

Atau, mungkin juga tidak. Tiada yang tahu.

Yang jelas, Andai saja Andre tidak menumpahkan gelas pagi ini, kebakaran malam ini belum tentu terjadi.

Jakarta, 20 Juni 2010
Okki Sutanto
(sedikit banyak terinspirasi dari film Benjamin Button)

Selasa, 15 Juni 2010

(Cerpen) Suatu Sore di Sebuah Kafe

Suatu Sore di Sebuah Kafe.



Siang baru saja beranjak. Kafe itu sepi, hanya ada dua atau tiga meja yang terisi. Sudah setengah jam aku duduk, ditemani sebungkus rokok. Asbak di mejaku sudah kotor, setidaknya lima puntung sudah berguguran di sana. Memang, aku janji bertemu dengan seseorang di sini jam 5. Tapi sudah jadi kebiasaanku untuk datang setengah jam lebih awal, terlebih di pertemuan sepenting ini.

Tepat pukul 5 ia datang. Tanpa banyak berbicara, ia langsung duduk di hadapanku. Sapaan ringan yang dulu selalu ada, kini tiada lagi. Dalam sekejap suasana berubah. Udara mulai terasa berat. Aku paksakan menebarkan senyum, meski nyatanya tak banyak berguna. Kuputuskan untuk menunggu saja, toh ia yang merencanakan pertemuan ini, setelah sekian lama.

Selasa, 08 Juni 2010

(Cerpen) Bening dan Bulan

Bening dan Bulan

Meski dengan cahaya pinjaman, bulan selalu ikhlas menjalankan pekerjaannya saban malam. Ia yang paling tahu betapa malam bisa menyiksa. Ia yang paling sadar seberapa sengsaranya gelap. Mungkin karena itu pula, malam ini Bulan tetap bersemangat menerangi dunia. Menerangi malam seorang gadis kecil di bawah sana, yang sedari tadi melamun ke arahnya.

Bening menopangkan dagu di jendela kamarnya. Lampu kamarnya sengaja ia matikan, biar ia bisa lebih menikmati cahaya bulan yang sedang ia pandangi. Lampu-lampu lain di rumahnya menyala terang, meski tidak tampak ada aktivitas apa pun di rumah itu. Tak lama, lamunannya terhenti karena suara deru mesin mobil. Ayah pulang. Bening pun berlari keluar rumah menyambut ayah.

"Kok ayah pulang malam sekali sih?"

"Iya, tadi ada pasien yang harus dioperasi. Jadi tidak bisa ayah tinggal. Bening kenapa belum tidur?"

"Sedang tidak bisa tidur, sekalian saja menunggu ayah pulang"

"Wah.. Anak baik. Tolong bawakan tas ayah ke ruang kerja ya, ayah mau makan dulu. Bening sudah makan kan?"

"Sudah kok. Oke yah, sini Bening bawakan."

Bening pun berlari riang ke ruang kerja ayahnya. Ini dia yang ia nantikan, sedikit kehangatan bersama ayah. Sedikit kebersamaan bersama orangtua. Sejak kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah, otomatis kehangatan semacam itu hanya menjadi mimpi di siang bolong saja bagi Bening. Untungnya, mimpi itu kadang bisa ia lamunkan. Bisa ia imajinasikan.

Terlebih ketika melihat teman-teman di sekolahnya selalu diantar jemput oleh orangtua masing-masing, berlibur bersama setiap akhir pekan. Ini yang membuat Bening semakin sering melamun, baik di rumah maupun di sekolah. Juga sepanjang jarak di antara kedua tempat itu. Jarak yang bisa ditempuh hanya dalam lima belas menit berjalan kaki. Jarak yang seharusnya tidak melelahkan. Tapi setiap hari harus Bening tempuh, sendirian. Dan nyatanya itu sangat menyiksa.

Tadi siang, Guru Bahasa Indonesia memberikan semua murid sebuah buku dongeng. Buku itu harus dibaca, untuk kemudian masing-masing menceritakan ulang di depan kelas. Bening pun mendapat satu buku. Buku ini yang kemudian ingin ia jadikan alasan untuk menghabiskan waktu bersama ayahnya: Dongeng sebelum tidur. Untuk itulah Bening sengaja menunggu ayahnya pulang. Sehabis makan malam, Bening akan meminta ayahnya membacakan buku itu untuk mengantarkan Bening tidur.

Sebenarnya ia sendiri belum yakin ayahnya akan mengiyakan. Ajakan piknik, ajakan ke taman hiburan, ajakan ke toko buku, hingga permintaan untuk dijemput di sekolah, selalu saja ditolak dengan halus oleh ayah. "Rumah sakit ayah kekurangan dokter, sehingga banyak sekali pasien yang harus diperhatikan oleh ayah. Ayah belum bisa mencari waktu kosong. Bening sabar ya. Ini semua ayah lakukan demi Bening. Bening bisa mengerti kan?" Rasanya, kalimat itu sedemikian akrabnya di telinga Bening. Seakan terhipnotis, Bening selalu saja mengangguk selepas kalimat itu ayah katakan. Anggukan tanpa tenaga, tapi penuh kegetiran.

Meski begitu, kali ini Bening berharap banyak. Hanya sepuluh menit. Sekedar membacakan dongeng dari samping ranjang. Sekejap saja, kebersamaan antara ayah dan anak. Di mana ruang dan waktu hanya milik mereka berdua. Tanpa harus ada telepon, sms, atau apa pun yang memaksa ayahnya menduakan Bening dengan pekerjaan. Titik. Apakah mimpi Bening terlalu tinggi? Entahlah.

Bening membuka pintu ruang kerja ayahnya. Ia meletakkan tas ayahnya di meja. Sejurus kemudian ia melesat turun ke kamarnya, mengambil buku dongeng. Lalu ia pergi ke ruang makan. Duduk. Ia menemukan secarik kertas di tengah meja: "Bening, barusan ada telepon dari rumah sakit. Ada pasien darurat. Ayah harus ke rumah sakit. Kamu tidur saja ya, sudah malam. Sampai jumpa besok. Salam sayang, Ayah."

Bening bisa merasakan betapa terburu-burunya ayah saat menulis catatan itu. Bening bisa memahami ayah. Dengan langkah gontai, Bening kembali ke kamarnya. Ia kembali melamun di jendela kamarnya, sembari menatap bulan. Dalam hatinya Bening berharap bulan bisa menggantikan ayahnya membacakan buku untuknya. Dalam hatinya Bening bertanya, "Bulan mau kan?"

Bulan bisa mendengar harapan Bening. Namun bulan tidak bisa menjawabnya dengan kata-kata. Bulan hanya bisa bersedih. Kesedihannya ia tularkan pada kawan-kawannya. Langit menangis. Bintang sesenggukan. Angin pun meraung pilu. Tapi semuanya hanya penyanyi latar. Rintihan hati Bening tetap penyanyi utamanya. Dari balik selimut, tanpa suara...


Jakarta, 8 Juni 2010
Okki Sutanto
(ikut menjadi penyanyi latar)

Senin, 07 Juni 2010

(Cerpen) Pemakaman Sahabat

PEMAKAMAN SAHABAT

Dua abad berlalu sejak penanggalan suku Maya habis
Kini riwayatmu yang habis, sahabatku
Kau, yang telah sekian lama berkuasa
kini tinggal secoret tinta dalam lika-liku sejarah

Padam apimu sudah lama divisikan, terlebih sejak aku lahir
Orang-orang lebih memilihku, seakan kita berdua tidak bisa dipilih bersamaan
Padahal sejatinya,
kita berasal dari situasi yang sama kawanku, yakni penindasan.

Tapi itu pula yang lantas membedakan kita..
Aku berasal dari sejarah penindasan, dan terus melawan penindasan
Tidak sepertimu yang justru terlena dalam kemegahan kuasa,
dan tak sadar berbalik menciptakan penindasan

Aku tahu sebenarnya niatmu tak begitu,
Tapi apa daya, tabiat anak-anakmu sulit diatur
Sebagai ayah kau gagal, meski kumaklumi karena kau pun tak ber-ayah
Mereka pula yang bersikeras memanggilmu ayah, bukan kau yang meminta mereka

Lama aku mengajak anak-anakmu untuk bergandengan tangan
Keras perjuanganku meyakinkan mereka untuk menghirup udara dari bumi yang sama
Namun rupanya kejayaan masa lalu begitu sulit mereka lepaskan
Mereka lupa bahwa tidak selamanya kehidupan memiliki siklus

Kini aku menguasai dunia, kawanku
Meski itu bukan tujuanku
Dunia jauh lebih tenteram tanpamu, sahabatku
Meski itu bukan inginku

Salam hangat, wahai sahabatku...
Aku ucapkan hanya untukmu, Agama.



Salam,


Nalar.

------------------------------------------------------------------

Jakarta, 15 Mei 2010
Okki Sutanto
(masih mencoba melihat kedua sahabat itu bersamaan)

Minggu, 06 Juni 2010

(Cerpen) Rutinitas Kami

RUTINITAS KAMI

Entah sejak kapan, kami berenam sepakat untuk rutin berkumpul di tempat ini. Tidak begitu bagus memang tempatnya, tapi tidak begitu jelek juga. Setidaknya kami memiliki ruang untuk melepas penat, berbicara banyak tentang kenangan bersama masa SMA, berbicara mengenai pekerjaan sekarang, keluarga, dan lain sebagainya. Tidak mudah bagi kami untuk berkumpul, mengingat kepadatan jadwal masing-masing dari kami.

Kami tidak pernah berjanji atau membuat kesepakatan, bahwa kami akan rutin berkumpul di sini. Ini semua terjadi alami begitu saja. Tanpa diutarakan secara verbal, kami tahu ini sudah menjadi tradisi kami. Dan kami juga tahu, bukan hanya kami yang rutin berkumpul di sini untuk bercengkrama, jauh sebelum kami sudah banyak yang melakukannya. Mungkin karena suasana tempat ini yang begitu nyaman. Mungkin karena kemudahan akses. Mungkin karena musik yang disuguhkannya. Entahlah, aku enggan untuk menganalisis.

Hari ini kami sedang membicarakan tentang masalah di tempat kerja masing-masing. Ada Rudi yang mulai mengeluhkan bawahannya yang sulit diatur. Ada masalah Alvin dengan pemilik saham di perusahannya. Ada juga Linggo yang sedang kesulitan menyusun Sistem Komputerisasi di perusahaan multinasional. Sebenarnya tidak semua masalah yang diutarakan di sini akan menemui solusi, namun setidaknya kami tahu bahwa kami tidak sendiri ketika menghadapi masalah. Itu sudah cukup.

Hal lain yang membuat kami senang untuk berkumpul di sini adalah karena tempat ini ramai. Cukup banyak orang berlalu lalang yang bisa kami komentari penampilannya. Tak jarang kami juga mencoba menggoda Mario, satu-satunya di antara kami yang masih lajang, dengan mencoba memperkenalkannya dengan pengunjung wanita yang menurut kami menarik. Biasanya sih berakhir dengan kegagalan, karena Mario terlalu pemalu untuk itu. Tak peduli, kami toh akan tetap membantunya lain kali.

Pembicaraan baru mulai menghangat ketika Arthur melemparkan topik liburan bersama ke luar negeri. Kami cukup antusias mendengarnya. Liburan bagaikan fatamorgana di tengah kepadatan kami saat ini. Masing-masing mulai mengutarakan ide dan pendapatnya. Mulai dari tujuan liburan hingga waktunya. Mulai dari acara hingga budgetnya.

Namun kami harus menunda pembicaraan kami ke kesempatan lain, seperti biasa. Bagaimana pun, kami tidak bisa terus menghabiskan waktu di sini. Ada keterbatasan waktu yang kami miliki.

Lagi pula, kebaktian hari ini sudah usai. Gerbang gereja akan segera ditutup.

---------------------------------------------------------
Jakarta, 25 Maret 2010.
Okki Sutanto
(merasa ini tidak sepenuhnya fiksi)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...