Per Januari 2012, blog saya migrasi ke Wordpress ya. Ini tautannya kalau mau mampir (http://okki-sutanto.com), trims! =D
Tampilkan postingan dengan label Ketikan Pinggir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ketikan Pinggir. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2011

Kuliah Itu Cuma Etalase Kok.


#Curhat070

Diposkan juga di Nota Facebook.

Kutipan yang saya jadikan judul tulisan ini dulu pernah saya dengar ketika mewawancara salah satu guru sekolah alam. Eh, sebelumnya, pada tahu gak sekolah alam itu apa? Bukan, ini bukan sekolah yang lulusannya jadi tarzan. Bukan pula sekolah yang lulusannya jadi pecinta alam hebat macam Soe Hok Gie. Di sekolah alam, anak-anak dibebaskan bereksplorasi, bereksperimen, berekspresi tanpa dibatasi sekat dinding dan berbagai aturan yang mengekang rasa ingin tahu mereka, yang membatasi interaksi mereka dengan kehidupan yang sebenarnya, yang membuat mereka tak berjarak dan akrab dengan alam lingkungan mereka (Website Sekolah Alam Indonesia).

Kembali ke awal. Guru tersebut mengemukakan bahwa kuliah itu tak lebih dari sekedar etalase saja. Mahasiswa hanya diperkenalkan secara sekilas saja tentang berbagai hal, tanpa tahu bagaimana pengaplikasian yang sebenarnya di kehidupan. Pada waktu itu guru yang saya wawancarai memberi contoh pula tentang bagaimana menangani anak-anak yang memiliki gangguan belajar dan kebutuhan khusus. Di buku-buku kuliah sih, tertulis dengan jelas penyebabnya apa, definisinya apa, dan intervensinya bagaimana. Tapi, apa iya menerjemahkan apa yang tertulis di dalam buku ke kehidupan nyata itu mudah? Ternyata tidak. Banyak loh tantangannya. Bisa dari ketidakpedulian orangtua, bisa keterbatasan ekonomi keluarga, dan segudang faktor lainnya. Hal-hal yang gak ada di perkuliahan. Gak tertulis di buku-buku kuliah.

Sebutlah sebuah kasus, dimana ada seorang anak SD yang suka menunjukkan perilaku kurang "sopan" ke teman-teman sebayanya. Ternyata, setelah ditelusuri, anak ini terkadang melihat orangtuanya melakukan hubungan suami-istri di rumah. Anak ini pun, tanpa paham apa yang dilakukan orangtuanya, mencoba meniru (walau dalam derajat tertentu). Nah, solusinya gimana? Gampang kan kalau di buku? Hilangkan penyebabnya! Minta orangtuanya jangan melakukan hal itu lagi di depan anaknya! Eh, sabar dulu. Usut punya usut, keluarga ini ternyata tinggal di sebuah kos sederhana, dan rumahnya itu cuma terdiri dari satu kamar kecil yang sempit. Semua anggota keluarga pun hidup dan beraktivitas di kamar sempit itu. Lantas, mau minta mereka sekeluarga pindah ke rumah yang lebih besar? Mana sanggup. Mau minta mereka gak melakukan hubungan suami-istri sama sekali? Mana tahan. Atau mau mereka ngungsi ke kamar tetangga kalau lagi kepepet? Mana enak sih.

Ya, itu baru satu kasus. Masih banyak kasus-kasus lain yang membuktikan bahwa kuliah itu cuma sebatas etalase, dan apa yang tertulis di buku itu gak banyak membantu di kehidupan nyata. Lantas, gimana dong? Ya, simpel aja, jangan cuma nuntut ilmu di kelas! Di luar kelas juga kan banyak tempat belajar yang bisa mengajarkan lebih dari sekedar etalase. Entah ikut organisasi, magang ke perusahaan, kembangin komunitas, atau apa lah. Di kelas pun, jangan mau cuma duduk diem dengerin dosen ngoceh. Kritisi dosen! Ajukan pertanyaan! Benturkan dengan realitas yang ada. Jangan biarin otak kita cuma jadi stasiun transit doang, sebelum ilmu itu berpindah dari buku dan mulut dosen ke lembar jawab ujian.

Jangan mudah puas. Hanya orang bodoh yang beli ember anti-pecah karena terlihat bagus di etalase (emang ada etalase yang muat ya?). Orang beli ember anti-pecah, setelah terbukti ember itu dibanting sekuat tenaga pun gak bakalan pecah. Ya, demikian pula dengan kuliah. Coba benturkan ilmu yang kita pelajari ke kenyataan, sampai terbukti kebenarannya. Banting sekuat mungkin. Sekali lagi, benturkan dan banting ilmunya ya. Bukan nilai Anda yang dibanting. Bukan pula pintu atau bangku kelas. Apalagi dosen.

Jakarta, 5 Desember 2011

Jumat, 18 November 2011

Ini Namanya Ngupil Apa Ya?


#Curhat.070
Sebelumnya diposkan di Nota Facebook.

Anda tahu ngupil? Ternyata, ngupil itu ada banyak jenisnya. Jika Anda mengupil karena ingin menghilangkan rasa tak nyaman di hidung Anda, itu namanya Ngupil Instrumentalis. Jika Anda mengupil karena senang dengan sensasi rasa perih dan sakit yang timbul, namanya Ngupil Masokis. Jika Anda mengupil karena melihat orang lain ngupil, namanya Ngupil Konformis. Jika Anda mengambilkan upil orang lain dengan sukarela, namanya Ngupil Altruistik.

Oke, jangan sepenuhnya percaya dengan apa yang saya tulis di atas. Tulisan tersebut hanyalah ilustrasi mengenai apa yang saya rasakan, di masa-masa awal saya belajar Psikologi. Di masa itu, saya merasa ilmu Psikologi amat bernafsu memberi nama dan istilah akan segala sesuatu yang terjadi di sekitar manusia.

Psikologi seakan selalu mempunyai istilah untuk menggantikan berbagai kosakata yang normal digunakan khalayak. Ada "konformitas" untuk menggantikan "latah / ikut-ikutan". Ada "Obul" untuk menggantikan "perfeksionis". Ada "katarsis" untuk menggantikan "ngamuk-ngamuk", dan masih banyak lagi.

Ya, begitulah kesan saya di masa awal berkuliah Psikologi. Setiap harinya, ada saja istilah-istilah baru yang dipelajari untuk menjelaskan berbagai fenomena keseharian. Alhasil, berbagai kosakata baru tersebut populer digunakan mahasiswa Psikologi dalam keseharian mereka. Di satu sisi, hal tersebut memang bagus, karena menandakan bahwa apa yang dipelajari di kelas tidak menguap begitu saja, dan dipahami melalui obrolan sehari-hari. Namun, di sisi lain penggunaan berbagai istilah tersebut juga seakan membangun dinding tak terlihat, antara mereka yang belajar Psikologi dan mereka yang tidak.

Semoga saja hal tersebut tidak membuat mahasiswa Psikologi menjadi terlalu nyaman dengan sesama mereka sendiri, pun sebaliknya mahasiswa non Psikologi jadi merasa kesulitan memahami mereka yang belajar Psikologi. Karena sejatinya ilmu Psikologi itu akan semakin bermanfaat, jika makin banyak orang yang mengerti. Semoga, ilmu Psikologi tak hanya tertransmisi di antara kepala dan mulut mahasiswa-mahasiswanya saja. Semoga saja!


Jakarta, 13 Oktober 2011
 Okki Sutanto. 

Selasa, 11 Oktober 2011

Waw, Ada Wanita Emas!

Kemarin, di tengah perjalanan ke kampus, perhatian saya mau tak mau tersedot oleh sebuah iklan kampanye. Di kaca belakang sebuah bis kota, terpampang wajah seorang wanita dengan tulisan "Ayo Saya Siap Menata Kota Jakarta".

Selain tulisan tersebut, tentu tertulis pula nama dan gelar sang Calon Gubernur (Cagub) yang tidak terlalu saya perhatikan. Yang menyedot perhatian saya adalah dua kata yang cukup dominan dalam iklan tersebut: Wanita Emas. Julukan tersebut cukup jelas terpampang di atas gambar wajah sang Cagub. Di bagian bawah iklan pun, dicantumkan alamat email sebagai berikut: wanitaemas@xxxxx.com.

Jujur, saya bingung dan tak habis pikir, mengapa harus Wanita Emas? Apakah sekujur tubuh sang Cagub dilapisi emas? Atau sang Cagub kalau menghadiri pesta suka mengenakan perhiasan emas berkilo-kilo? Atau apa pun yang disentuh sang Cagub bisa berubah seperti emas layaknya raja Midas? Ataukah nanti jika terpilih menjadi gubernur, ia akan menjadikan Jakarta sebagai kota pertambangan emas? Ah, sudahlah.

Saya tahu, tahun depan Jakarta akan melaksanakan Pilkada lagi untuk menentukan Gubernur periode 2012 - 2017. Belakangan memang sudah mulai santer terdengar nama-nama yang akan mencalonkan diri menjadi Cagub. Saya juga tahu, sekarang ini dalam berkampanye harus semakin kreatif agar efektif menggalang suara pemilih. Namun, tetap saja menurut saya julukan Wanita Emas adalah sesuatu yang absurd dan kurang bisa diterima akal sehat. Apa tidak ada yang lain?

Pilkada 2012 DKI Jakarta akan berlangsung sekitar Juli - Agustus tahun depan. Ke depannya, tentu akan semakin banyak pasangan Cagub - Cawagub yang memproklamirkan diri dan berkampanye. Semoga saja tidak ada lagi Wanita-Wanita Emas, Perak, atau Perunggu lainnya yang menjadi Cagub. Cukuplah yang normal-normal saja, macam "Sang Ahli", dijadikan julukan. Karena ternyata memenuhi janji sebagai "Sang Ahli" kota Jakarta saja tidak mudah. Apalagi menjadi Wanita Emas?

Jakarta, 11 Oktober 2011
Okki Sutanto

Rabu, 14 September 2011

Kenapa Saya Terdampar di Psikologi?


#Curhat.070.Sesi.Satu.
[http://makna-kata.blogspot.com/] | sebelumnya diposkan di Catatan Facebook.

Sampai sekarang, ketika ditanya orang apa alasan saya mengambil kuliah jurusan Psikologi, saya suka gelagapan. Mao dijawab "Gak tau", tapi kok kesannya tolol. Mao dibilang "Disuruh orangtua", tapi ya kagak juga sih.

Kadang saya suka iri sih, sama alasan teman-teman saya yang kuliah di Psikologi. Ada yang bilang karena pas SMA suka jadi tempat curhatan orang-orang, makanya tertarik belajar lebih lanjut tentang konseling, dan kuliah di Psikologi. Kalau saya? Waduh, jangankan orang. Anjing aja pasti ogah deh disuruh curhat ke saya. Habisnya, hobi saya itu ngata-ngatain orang. Cela-cela orang. Kalo ada cowo yang curhat karena baru putus, pasti saya kata-katain "Jadi cowo kok lembek banget sih? Pantes aja lu diputusin!". Kalo ada cowo yang curhat karena susah dapet pacar, pasti saya maki-maki"Lu itu gak muka, gak otak, gak dompet, semuanya pas-pasan. Satu-satunya kelemahan lu adalah lu gak punya kelebihan. Ya wajar aja lu ga dapet-dapet pacar!". Ya, pokoknya gitu deh. Curhat sama saya itu pasti ga enak banget. Orang yang tadinya ga mau bunuh diri, bisa jadi malah berniat bunuh diri setelah curhat sama saya. Yang tadinya mau bunuh diri, bisa-bisa malah berhasrat bunuh saya duluan.

Ada lagi alasan teman saya yang lain, "Soalnya gue mau lebih kenal diri gue sendiri". Wah, sakit nih yang kayak gini-gini. Kenalan kok sama diri sendiri? Di mana-mana kenalan itu ya sama orang hebat, minimal orang cakep/ganteng, ini malah mau kenal sama diri sendiri. Filosofis banget ya tuh alasan? Minder saya langsung.

Pokoknya masih banyak lagi deh alasan-alasan spektakuler yang dilontarkan teman-teman saya. Dari yang mau bisa "baca" orang, hipnotis orang, sampe yang mau nyembuhin orang gila juga ada. Tinggallah saya terkesima dengan berjuta alasan tersebut. Saya sendiri? Hmm...

Dari dulu, saya suka mikir, kalo diibaratin, saya kini kayak seorang sleepwalker. Pernah denger kan sleepwalker? Iya betul, orang yang suka (bisa) jalan pas lagi tidur. Biasanya orang tersebut tidur di kamarnya, lalu dalam keadaan masih tidur, dia jalan-jalan keluar kamar, keluar rumah, hingga ke suatu tempat yang enggak dikenal. Tiba-tiba, dia bangun dan sama sekali ga ngerti lagi ada di mana dan kenapa. Nah, kurang lebih kayak gitu deh sensasi yang kerap saya rasakan. Tiba-tiba aja, saya udah daftar, diterima, dan kuliah di Fakultas Psikologi. Ya, terdampar mungkin suatu istilah yang tepat. Tanpa tahu alasannya, saya terdampar di Psikologi.

Anda percaya cerita di atas? Sebaiknya jangan terlalu. Karena saya sendiri juga kurang percaya. Mungkin cerita tersebut ada benarnya, tapi ga sepenuhnya. Emang sih, pas masih SMA saya itu sama sekali gak peduli tentang kuliah. Saya yakin, kuliah di mana aja saya bakalan survive dan sukses. Tapi saya rasa ada satu alasan fundamental yang membuat saya memilih berkuliah di Psikologi. Kalo saya ceritain alasannya, pasti ada yang bilang saya ini sombong. Tapi serius deh, alasan yang paling masuk akal kenapa saya kuliah di Psikologi itu adalah karena katanya kuliah di Psikologi itu susah. Ya, situ gak salah denger kok. Saya masuk Psikologi karena katanya Psikologi itu susah / berat. Susah masuknya, susah kuliahnya, susah lulusnya. Gitu kira-kira yang saya denger tentang kuliah di Psikologi.

Lah?? Udah tau susah, kenapa malah pengen masuk???

Tenang, saya tau pertanyaan itu bercokol di tenggorokan situ dan siap situ muntahkan. Ada alasannya kok. Sampai mau lulus SMA, bagi saya hidup itu gak ada tantangannya. Pernah sih pas kelas 1 SMA saya nyaris gak naik kelas, tapi itu lebih karena sayanya terlalu santai dan gak mao nganggep serius sekolah. Selebihnya, hidup saya itu lurus-lurus aja. Lempeng-lempeng aja. Pas SD saya terbiasa jadi penghuni ranking 1-5 di sekolah. Pas SMP saya biasa juga penghuni papan atas prestasi di sekolah, ditambah lagi saya cukup aktif di berbagai kegiatan termasuk jadi kapten tim Basket pas kelas 3. Pas SMA, saya juga ga kesulitan di pelajaran, bahkan bisa masuk ke tim inti Basket dan Sepakbola. Intinya, idup itu gak ada susah-susahnya bagi saya.

Yap, saya benar-benar butuh tantangan!!

Ya, kurang lebih itulah latar belakang kenapa saya kuliah di Psikologi.
Selanjutnya... Bagaimana rasanya kuliah di Psikologi?
Apakah saya sukses menemukan apa yang saya cari?
Sudahkah hidup saya dipenuhi kesusahan-kesusahan yang saya mau?

Tenang. Nantikan jawabannya di sesi-sesi selanjutnya #Curhat.070
Mau berbagi cerita juga? Mari bikin sesi-sesi #Curhat.070 versimu sendiri! =)

Jakarta, 26 Agustus 2011
Okki Sutanto.

[Oh ya, jangan terlalu kagum ya sama cerita saya semasa SMP dan SMA. Satu-satunya rekor menang yang dipegang tim basket SMP saya, semasa saya jadi kapten, adalah saat tim kami menang walkout atas tim dari luar kota yang kayaknya kejebak macet ke lokasi bertanding. Selama jadi tim inti Basket & Sepakbola SMA, tempat saya beraksi itu ya cuma di ruang ganti sama di bangku cadangan. Masuk lapangan sih jarang-jarang, itu pun kalo ada yang cedera. Dan tugas saya bukan gantiin yang cedera, tapi bopong yang cedera itu ke pinggir lapangan. Miris ya? hehehe] 

Senin, 09 Mei 2011

Buat Saya, Pemimpin Itu...

Ketikan Pinggir.
#Tulisan keduapuluhtiga, hari keduapuluh

Beberapa waktu lalu, seorang teman mengajukan pertanyaan menarik ke saya: "Bagaimana sih caranya jadi pemimpin?". Wah, otomatis saya itu bingung. Wong saya sendiri merasa belum pernah jadi pemimpin. Kalau kebetulan jadi pencetus ide, koordinator, atau pimpinan sih sering. Tapi yang namanya jadi pemimpin, kata banyak orang kan lebih dari sekedar itu saja. Dan berhubung saya juga kurang tahu "lebih"nya itu seberapa banyak. Jadi, ya saya bingung gimana jawabnya.

Singkat kata, karena penasaran, saya pun ikut merenungkan pertanyaan itu. Gimana ya jawabnya? Ada ga ya jawabannya? Hehehe.. Karena saya bingung mau mulai mencari tahu dari mana, saya coba saja berangkat dari definisi teoritis. Begini kurang lebih definisi dari pemimpin: Seseorang yang memegang posisi kunci dalam sebuah kelompok, dan dengan bekal berupa keterikatan dengan anggota kelompok lainnya, mengarahkan kelompok ke tujuan bersama (Bass dalam Widiawati, 2009).

Dari beberapa buku yang saya baca, memang mendefinisikan pemimpin itu tidak mudah. Setiap orang, baik pemimpin maupun bawahan, ya sah-sah saja memiliki pandangannya sendiri terkait sosok seorang pemimpin. Lah, kalau sudah begini, jadilah saya terbujur-kaku-meraung-sedih-di-pojokan-kamar-malam-malam, sambil mikirin gimana caranya menjawab pertanyaan teman saya di atas. Apalagi yang ditanya teman saya itu GIMANA caranya jadi pemimpin, bukan sekedar definisi dari pemimpin.

Karena saya tidak tega membiarkan teman saya itu rasa penasarannya tidak terpuaskan, saya memutuskan untuk menjawabnya dengan apa yang saya yakini. Saya gak yakin ini jawaban yang benar, meski saya lebih ga yakin lagi kalau sebenarnya ada jawaban absolut dari pertanyaan tersebut. Berikut adalah beberapa hal, yang menurut saya SEBAIKNYA dimiliki oleh seorang pemimpin:

1. Tujuannya jelas.
Ya, pertama-tama kita harus punya tujuan. Dan tujuan itu harus jelas. Kalau tujuan aja ga jelas, apa yang mau Anda pimpin? Kadang ini terjadi loh. Ada saja orang yang sudah dijadikan pemimpin tapi masih ga tau apa alasan dia jadi pemimpin, dan apa tujuannya. Kalau yang kayak gini-gini nih namanya pemimpin "KTP". Ya, cuma sebatas hitam di atas putih saja. Ga lebih. Dan biasanya sih yang kayak gini akan tenggelam dengan sendirinya, ya nama baiknya, ya kepercayaan orang-orangnya, ya riwayatnya.

2. Punya pengikut.
Kalau Anda lihat orang teriak-teriak di pinggir jalan, gerak-gerakin tangan ke kanan kiri atas bawah, lantas ngomongin tentang akhir jaman, kira-kira siapa ya orang tersebut? Kalau ga ada pengikutnya, ya pasti orang gila. Kalau punya banyak pengikut, bisa aja itu pastor / pendeta lagi khotbah. Lihat kan bedanya? Cuma sebatas ada-tidaknya pengikut, bedanya jauh. Dari orang gila, jadi pemimpin. Jadi, ya seorang pemimpin itu harus punya pengikut. Pengikut itu bukan berarti budak, kacung, atau pembantu ya. Kalau Anda punya itu semua, saya yakin Anda itu bukan pemimpin, tapi ya orang kaya. Pengikut itu ya orang yang percaya dengan Anda. Percaya dengan ide/gagasan Anda. Percaya dengan apa yang ingin Anda lakukan. Percaya pada tujuan Anda.

3. Siap bertanggungjawab.
Kalau sudah jadi pemimpin. Ya kita harus siap bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan, juga apa yang dilakukan oleh orang-orang yang kita pimpin. Nah, untuk itu penting sekali bagi seorang pemimpin untuk setidaknya tahu secara garis besar, apa yang dilakukan oleh bawahannya. Tidak harus detil sekali, yang jelas ia tahu bawahannya itu mau ngapain, kenapa, dan bagaimana. Kalau itu saja kita gak tahu, gimana caranya kita siap bertanggungjawab?

4. Siap membimbing.
Bisa membimbing bukan berarti kita harus tahu segalanya. Setidaknya, jika ada pengikut kita yang bertanya, kita bisa memberi tahu, ke mana ia harus mencari tahu. Soalnya yang namanya pengikut itu biasanya hobi sekali bertanya, kalau hobinya itu ga tersalurkan, siap-siap saja kehilangan pengikut. Jadi, kalau ada pengikut kita yang bertanya gimana caranya bikin proposal, ya kita siap contohin. Kalau ada yang bertanya gimana caranya bikin bom, kita harus siap merujuknya ke ahli bom atau psikolog. Kalau ada pengikut kita yang bertanya siapa itu Moammar Khadafy, ya kita harus siap menjelaskan dengan sabar bahwa di luar sana ada teknologi bernama Google. Dan google itu mudah dipakai. Juga google itu gratis. Juga google itu tidak akan marah meskipun setiap hari diajukan pertanyaan sebanyak apa pun.

5. Tahu kapan harus bersikap.
Pemimpin itu bukan berarti dia harus bermata tajam, bermimik serius, dengan bibir tertutup dan tangan disilangkan di depan dada. Itu namanya kepala sekolah lagi ngambek. Ya, pemimpin itu harus tahu tempat, dan tahu waktu, kapan ia harus bersikap seperti apa. Kalau mukanya tegang dan serius pas pengikutnya lagi bercanda ya itu namanya kurang bijak. Kalau cekikikan sambil bbm-an pas lagi kerja dengan instansi lain juga itu namanya kurang bijak. Ya, tahu tempat lah. Kapan bisa bercanda. Kapan bisa serius. Kapan harus mendengar. Kapan harus didengar.

6. Tahu kapan harus mundur.
Biasanya, candu kekuasaan itu sebegitu hebatnya, sampai-sampai seorang pemimpin enggan melepaskan statusnya. Buat saya, jadi pemimpin itu ga harus kekal, abadi. Bisa jadi ada orang lain yang lebih tepat memimpin. Dan kita harus tahu kapan saat itu tiba. Lebih bagus lagi kalau kita sendiri yang menciptakan saat-saat itu, baik mempersiapkan momentumnya maupun mempersiapkan sang pemimpin yang baru itu.

7. Berani salah.
Poin terakhir ini sangat terkait dengan poin ketiga. Jadi pemimpin itu bukan berarti harus selalu sempurna. Saya yakin pemimpin yang matang adalah mereka yang pernah, bahkan sering melakukan kesalahan. Yang penting itu dia berani salah untuk sesuatu yang benar. Berani mengaku salah ketika ada yang lebih benar. Dan berani membenarkan kesalahannya, bukan sekedar mencari pembenaran akan kesalahannya.

Ya, demikianlah pandangan saya akan sosok seorang pemimpin. Bisa jadi ada yang berpandangan sama, bisa juga ada yang berbeda. Ya itu sah-sah saja. Namanya juga pandangan. Dan ini adalah pandangan saya saat ini, yang mana bisa saja berubah karena saya itu kan masih di tahap belajar. Jadi, mungkin suatu saat prinsip-prinsip ini akan saya tambahkan, kurangi, atau lengkapi. hehehe.. Semoga saja ini cukup menjawab kepenasaran teman saya yang satu itu. Meski saya yakin sebenarnya langkah pertama yang harus ia lakukan adalah berhenti bertanya "bagaimana" jadi pemimpin. Pemimpin itu bukan buat dipelajari teorinya, tapi dijalani langsung. Karena setiap orang bebas memiliki versinya masing-masing akan seorang pemimpin. Tidak ada yang boleh, berhak, dan bisa menyalahkannya. =)


Jakarta, 9 Mei 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(males nulis daftar pustaka ah, cari aja via teknologi bernama google itu)

Minggu, 08 Mei 2011

Yang Itu Kebetulan Lagi Kosong, Pak

Ketikan Pinggir
#tulisan keduapuluhsatu, hari kesembilanbelas

Saya lupa mendengar cerita ini dari mana. Tapi belakangan ini saya suka menceritakan dan merenungkannya. Silakan dibaca cerita tersebut. Untuk nama, lokasi, dan detil-detil lainnya sudah saya ubah dengan tidak mengubah esensi.

Alkisah, seseorang pergi ke sebuah restoran. Setelah melihat-lihat menu, ia pun memanggil pelayannya dan memesan, "Mas, pesan mie ayam baksonya ya". Si pelayan membalasnya seperti ini "Pak, di sini menu spesialnya mie yamin komplit, dengan bakso, pangsit, dan saos spesial khas restoran ini". Mendengar penjelasan tersebut, pengunjung itu pun mengganti pesanan awalnya "Yaudah mas, sepertinya menarik, saya pesan itu ya satu."

Seharusnya percakapan berhenti di sana ya. Sayangnya, sekaligus untungnya, cerita itu belum berakhir. Si mas-mas pelayan itu lantas mengeluarkan jawaban pamungkas dengan muka polosnya, "Yang itu kebetulan lagi kosong hari ini, Pak."


Meski saya biasanya sulit berempati, namun saya sangat bisa membayangkan perasaan si pengunjung tersebut. Sudah memesan makanan A, diberikan rekomendasi B, eh ternyata pas dipesan menu tersebut sedang kosong. Pasti si pengunjung itu cengo sebego-begonya. Kalau bisa dan boleh, pasti dia ingin meneriaki si pelayan tepat di gendang telinganya.

Awalnya, saat mendengar kisah tersebut, saya tidak habis pikir. Apa ya yang ada di otak si pelayan itu, untuk apa ia repot-repot merekomendasikan menu yang jelas-jelas sedang kosong? Lalu saya berkesimpulan, kesalahan bukan terdapat pada si pelayan. Kesalahan terdapat pada pelatihan / pembekalan yang diberikan pengelola restoran.

Biasanya, setiap karyawan baru pasti menjalani program pembekalan / pelatihan terlebih dahulu sebelum mulai bekerja. Dalam asumsi saya, ketika pelatihan si pelayan tersebut diajarkan untuk memberitahu menu spesial dari restoran, kepada setiap pengunjung. Ia diajarkan untuk melakukan hal tersebut, beserta cara mengucapkannya kata per kata. Masalahnya, ia tidak diberitahukan MENGAPA ia harus melakukan itu. Alhasil, ia pun melakukan tugas tersebut dengan sungguh-sungguh. Setiap pengunjung ditawari menu spesial tersebut, tanpa mempedulikan ketersediaan menu tersebut.

Hal ini sangat umum terjadi di dunia sehari-hari. Kita cenderung disuguhkan informasi dengan urutan begini: what & how & why. Bahkan kadang tanpa penjelasan akan "why" sama sekali. Urutannya dari luar ke dalam, jika melihat gambar berikut:
Why, How, What.
Padahal, akan jauh lebih baik ketika kita memberikan informasi tersebut dengan urutan dari dalam ke luar: why & how & what. Perusahaan-perusahaan sukses, orang-orang terkenal, sudah mengaplikasikan hal ini dalam gaya komunikasi mereka. Hasilnya, apa yang ingin mereka sampaikan, terkomunikasikan dengan sangat baik ke orang-orang di sekitar mereka.Orang menjadi lebih yakin, percaya, dan mengerti akan gagasan yang disampaikan.

Lebih lanjut mengenai konsep why & how & what tersebut mungkin akan saya jelaskan melalui tulisan tersendiri, di suatu waktu nanti. Karena kalau dijelaskan di sini bisa jadi terlalu panjang.  Intinya, selalu komunikasikanlah alasan dan tujuan Anda melakukan sesuatu terlebih dahulu, sebelum terburu-buru masuk ke istilah atau detil teknis. Andai itu diterapkan, bisa jadi tidak perlu ada seorang pengunjung yang cengo sebego-begonya, ketika mendengar kalimat polos dari mulut si pelayan: "Yang itu kebetulan lagi kosong hari ini, Pak."


Jakarta, 8 Mei 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(tidak sedang cengo, apalagi sebego-begonya)

Selasa, 03 Mei 2011

Ternyata Bukan Mesin Waktu

Catatan Pribadi
#Tulisan kelimabelas, hari keempatbelas.

Hari ini saya berkunjung ke sebuah SMP di bilangan Gambir. Saya menemani beberapa teman saya melakukan assessment ke siswa/i, juga membantu melakukan wawancara terhadap beberapa guru. Kami datang dari sekitar pukul sebelas, selesai sekitar pukul tiga sore. Assessment-nya berlangsung lancar, baik ke siswa-siswi SMP maupun ke gurunya, sekaligus juga assessment ke tukang jajanan di depan sekolahnya. hehehe..

Awalnya teman saya yang mengajak membeli cimol. Lantas kami berlima jadi bernostalgia ngobrolin jajanan masa SD. Mulai dari cireng sampai cimol. Mulai dari es-teh-plastikan-lima-ratus-perak sampai telor-dadar-bulet-kecil-kecil. Ternyata di sebuah pelosok kota Jakarta, jajanan itu masih saja ada. Masih saja bertahan di tengah serbuan jajanan modern. Masih saja tersisa untuk menyalurkan hasrat jajan anak-anak sekolahan.

Kami tahu sih, jajanan tersebut tidak sehat. Mulai dari minyak gorengnya yang entah sudah dipakai berapa kali. Juga kandungannya yang sebagian besar cuma tepung. Sampai ke saosnya yang entah sudah di-isi-ulang berapa kali dan dicampur air putih. Tapi, ya namanya terbawa suasana, kami rogoh juga kocek buat memuaskan nafsu duniawi kami. Perut sih gak kenyang, tapi ya mata dan hati kami lumayan tercukupi. hehe..

Hal itu jadi cukup menyadarkan saya. Selama ini saya kira saya sudah memasuki mesin waktu ke masa depan yang jauh, sehingga bumi yang saya tinggali ini sudah berbeda sama sekali dengan bumi semasa saya SD. Ternyata, saya itu masih ada di dunia yang sama. Bumi itu masih ber-rotasi dari barat ke timur. Masih mengelilingi matahari yang sama. Ternyata, saya itu tidak sejadul yang saya kira. Dan ternyata saya ga perlu minder sama anak-anak SD zaman sekarang.

Habisnya, gimana gak minder ya? Dulu itu pas saya SD, kalau gak main bola ya saya mainnya layangan. Nah sekarang, anak-anak TK saja mainannya sudah Ipad, anak SD-nya sudah rajin menyambangi warung internet. Dulu itu, kalau mau berteman kalau nggak sama teman sekelas, ya sama tetangga yang seumuran. Lah, anak sekarang itu jaringan pertemanannya sudah gak terbatas. Tinggal satu-dua kali klik, sudah bertambah satu teman baru. Dulu itu kalau punya artis favorit, ya setengah mati cari alamatnya lalu kirim surat via pak pos. Sekarang ini ya tinggal jadi "follower" aja udah beres. Hayo, gimana ga minder coba kalau jadi saya?

Untungnya hari ini saya tersadarkan. Saya ini masih hidup di Jakarta, Indonesia, dan planet yang sama. Perubahan memang ada dan tak terelakkan. Tapi itu tidak mesti menjadikan saya terasingkan dari dunia saya sendiri, atau dunia masa kecil saya. Dan ketika saya kangen ingin mengenang kembali masa-masa kecil saya, ternyata dunia belum seluruhnya berubah. Masih ada pelosok-pelosok Jakarta yang belum tersentuh megahnya modernitas. Masih ada gang-gang kecil di mana penjualnya masih obral senyum menjajakan cireng, cimol, es-teh-plastikan-lima-ratus-perak, juga telor-dadar-bulet-kecil-kecil.

Semuanya masih ada, mungkin akan selalu ada. Hanya sedang menunggu untuk kita temukan, saat kita mencari.


Jakarta, 3 Mei 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(semoga cimol tiga ribu perak tadi sore tidak membuat saya tambah gendut)

Senin, 02 Mei 2011

Buat Para Ksatria Berhelm SNI...

Ketikan Pinggir
#Tulisan keempatbelas, hari ketigabelas

Saya itu kadang kasihan sama mereka-mereka yang setiap harinya naik motor. Eh, kalimat pembukanya terlihat sombong ya? Maaf. Ga ada maksud sombong sama sekali, wong saya sendiri juga pengendara sepeda motor kok. Maklum, saya cuma mahasiswa, dan kebetulan saya bukan orang mampu. Orangtua saya sih mungkin saja orang mampu, tapi kan sayanya belum! Ya toh? hehehe. Naik motor itu ya mau nggak mau. Habis gimana? Saya cuma sanggup beli bensin buat motor, motornya saja masih dipinjamkan sama orangtua. Jujur saya belum sanggup kalau disuruh beli bensin buat mobil. Wong beli bensin motor saja sudah ngos-ngosan. Ngasong sana-sini. Ngamen kiri-kanan. Untungnya selama ini masih tercukupi, bahkan rutin membeli BBM non-subsidi. Habis, gimana? Katanya BBM subsidi itu cuma buat orang susah. Ya karena saya gengsi kalau dibilang orang susah, ya saya isi saja dengan yang non-subsidi. Hitung-hitung meringankan beban negara. Hitung-hitung beramal.

Balik lagi ke rasa kasihan itu tadi. Gimana ga kasihan coba? Kita itu kan sama-sama tahu kalau belakangan ini bumi semakin panas, terlebih lagi Jakarta. Kalau naik mobil itu masih mending bisa pasang pendingin. Lah kalau naik motor? Sudah panasnya terik, masih mesti pakai jaket, mesti pake helm SNI, ditambah macet yang kadang-kadang gak masuk akal. Panasnya itu luar binasa loh! Saya gak bohong. Sekalinya ga panas itu kalau cuaca agak-agak mendung. Tapi seringnya kalau sudah mendung itu malah bablas sampe hujan deras. Dan lagi-lagi kita yang naik motor cuma bisa tarik nafas panjang. Syukur-syukur kalau ada jembatan / terowongan, bisa berteduh sebentar. Tapi denger-denger sekarang kalau ada motor yang berhenti di bawah jembatan pas hujan, bakalan kena tilang. Benar ga ya? Gila ga ya? Gila dong ya.

Sudah begitu, saya juga seringkali merasa kok kita-kita ini pengendara motor dianaktirikan banget. Mobil boleh masuk tol, motor mana boleh. Mobil enak ada layanan valet kalau parkir di mal-mal gaul. Motor mana ada. Kalau di lampu-lampu merah juga mobil sering ditawarin majalah-majalah setengah porno, kalau motor mana pernah. Kalau mobil punya jalur cepat, nah motor itu harus puas dengan jalur lambat di sebelah kiri.

Khusus poin terakhir di atas, saya masih tak habis pikir sampai sekarang. Kenapa ya kok yang namanya motor itu harus ada di jalur lambat atau di lajur kiri? Dan biasanya jalur lambat itu lebih sempit daripada jalur cepat. Padahal nih ya, untuk menampung sepeda motor saja jalur lambat itu sudah nyaris tak muat. Eh masih harus dimuat-muatin sama taksi, bajaj, mikrolet, metromini, bus AC, dan mobil-mobil yang ingin belok atau minggir. Semuanya dipaksa masuk di jalur lambat. Edan! Kadang kala saya jadi ingat sama kamp konsentrasinya Nazi kalau lagi naik motor di jalur lambat. Benar-benar dipadatkan, kayak sarden dikalengkan.

Kenapa ya pengendara motor harus dianaktirikan? Padahal sama-sama bayar pajak loh. Sama-sama beli bensin juga. Dan pengendaranya pun sama-sama ciptaan Tuhan. Tujuannya pun sama: pengen sampai suatu tempat! Entah sekolah, kampus, kantor, atau apa pun. Lantas kenapa kita pengendara motor setiap harinya harus menyabung nyawa di "kamp konsentrasi"? Saya itu sering banget ngeri loh sama bus-bus yang kalau lagi jalan goyangannya lebih-lebih dari Inul Daratista. Detik pertama ada di lajur paling kiri. Detik berikutnya tahu-tahu sudah belok ke lajur paling kanan. Belum lagi yang kadang-kadang ngeremnya mendadak. Pokoknya bus itu kalau ngerem dan belok, yang tahu cuma sang sopir dan Sang Pencipta. Lah, kalau sudah begini kan lagi-lagi kami pengendara motor cuma bisa berharap biar gak tersenggol, terserempet, atau terlindas sama bus-bus besar itu.

Ujung-ujungnya sih, mau senaas apa pun nasib jadi pengendara motor, ya mau tak mau akan tetap saya lakoni. Selain masalah keterjangkauan biaya yang sudah saya sebutkan di atas, bagaimana pun naik motor membuat umur saya tidak terbuang lebih banyak di jalan. Kalau naik mobil itu, meski enak dan nyaman, jarak tempuhnya dua sampai tiga kali lebih lama daripada naik motor! Dengan kata lain, kalau naik motor itu seharinya saya bisa menghemat satu jam waktu perjalanan. Seminggunya tujuh jam. Sebulannya tiga puluh jam. Setahunnya tiga ratus enam puluh lima jam. Lumayan juga kan ya? Meski resikonya ya bisa saja suatu saat kami-kami ini tersenggol, terserempet, atau terlindas sama bus-bus besar itu. Dan jam-jam yang sudah kami depositokan tadi pun selamanya tidak bisa kami nikmati lagi. Lalu lagi-lagi kami cuma bisa menghela nafas. Yah.... Mau gimana lagi?


Jakarta, 2 Mei 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(didedikasikan buat para ksatria berhelm SNI)

Minggu, 01 Mei 2011

Sekiranya Saya Orang "...."

Ketikan Pinggir.
#Tulisan ketigabelas, hari keduabelas

"Maka jika saya seorang Belanda, saya tidak akan menyelenggarakan perayaan kemerdekaan di suatu negeri di mana kemerdekaan rakyatnya telah dirampas. Bukan hanya tidak adil, melainkan juga salah, memerintah pribumi-pribumi supaya memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Gagasan mempersiapkan peringatan itu saja sudah cukup menghina mereka, dan sekarang kita bahkan merampok isi kantong mereka. Sesungguhnya itu adalah penghinaan secara moral dan material."
("Sekiranya Saya Seorang Belanda", Soewardi Soerjaningrat, dimuat di De Express, 19 Juli 1913.)

Tulisan di atas adalah kutipan dari tulisan Soewardi Soerjaningrat, yang kemudian berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara, pada tahun 1913 menjelang perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis. Bagi beliau, perayaan kemerdekaan itu wajar, tapi masalah muncul ketika Belanda ingin merayakannya di Indonesia (waktu itu masih Hindia Belanda), yang mana merupakan negara dengan kemerdekaan masih dirampas oleh Belanda. Beliau menggugat kewarasan orang-orang Belanda, lebih-lebih ketika rakyat Hindia Belanda diminta menyumbangkan dana untuk perayaan tersebut.

Tulisan berjudul asli "Als Ik eens Nederland Was" tersebut tersebar luas dan sampai ke telinga pejabat Belanda. Soewardi bersama kedua rekannya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, atau lebih akrab dikenal dengan sebutan "Tiga Serangkai" pun lantas diasingkan oleh Belanda. Meski demikian, semangat dari tulisan tersebut tetap tersebar luas dan menginspirasi gerakan pemuda, bahkan hingga bertahun sesudahnya.

Andai saja Soewardi masih hidup sekarang, mungkin ia akan mengganti judul tulisannya menjadi "Sekiranya Saya Anggota DPR". Setengah abad lebih negri ini merdeka, nyatanya laku para petingginya tetap saja di luar alur logika kewarasan. Di saat sebagian besar rakyat Indonesia masih berjuang hidup setengah mati, para anggota DPR malah gigih membangun gedung baru, ngotot plesiran ke luar negeri, dan berkeras mendapat fasilitas super mewah lainnya. Dan sialnya, semua kenikmatan duniawi mereka disumbang oleh rakyat, melalui pajak. Maka bagi saya anggota DPR sekarang tak ubahnya penjajah di masa silam, yang menelanjangi rakyat Indonesia luar dalam, fisik dan psikis, moral dan material. Rakyat yang goyang-goyang maju-mundur-depan-belakang, eh anggota DPR yang orgasme. Sakit!

Sayangnya kita tak punya pilihan. Saat makna demokrasi direduksi menjadi setumpuk uang pendempul popularitas, apa yang kita punya? Tak ada. Mau siapa pun, mau partai mana pun, laku pejabat di negeri ini setali tiga uang. Jika di salah satu paragrafnya Soewardi bisa menulis: "Betapa bahagianya saya. Syukurlah saya bukan orang Belanda.", maka saya tidak bisa menulis itu. Saya orang Indonesia. Saya tidak bisa memilih untuk menjadi bukan Indonesia, dan saya juga tidak bisa pura-pura bahagia melihat kondisi Indonesia.

Sebenarnya saya sudah cukup lama berhenti berharap pada institusi negara. Mereka tidak akan bisa menyejahterakan rakyat. Tidak akan pernah. Karena saya yakin hal pertama yang paling mendasar dalam sebuah organisasi, pun institusi, adalah sumber daya manusianya. Dan di Indonesia hal tersebut masih jauh dari layak. Kita tak pernah punya sarana belajar yang tepat bagi rakyat untuk disiapkan memerintah negara di kemudian hari. Mereka yang hidup melarat dan tahu penderitaan rakyat justru tak terakses pendidikan. Mereka yang terakses pendidikan justru dicetak menjadi budak-budak kapitalis, atau menjadi majikan-majikan kapitalis, bagi yang agak beruntung.

Saya juga selalu berpemikiran untuk suatu saat nanti menyatukan mereka-mereka yang punya idealisme, mereka-mereka yang tidak puas kepada negara, untuk masuk ke lingkaran kekuasaan dan bergerak dari dalam. Sayangnya ternyata hal tersebut juga tak mudah. Kebanyakan dari mereka yang lantang menggonggong justru enggan masuk ke dalam lingkaran kekuasaan negara. Kotor katanya. Kadang saya jadi bingung sendiri. Bagaimana mereka mengharapkan perubahan? Kedatangan Ratu Adilkah? Ah, mak! Gila mereka kalau kata Einstein. Berhadap rutinitas memunculkan hasil berbeda.

Ah, seandainya saja saya orang Belanda, mungkin tak perlu repot-repot memikirkan hal ini. Tapi ya bagaimana lagi. Saya tidak bisa mengatakan saya bukan orang Indonesia. Saya sudah memilih untuk hidup di bumi manusia ini dengan segala persoalannya. Dan kebetulan saya terpelajar, dan mereka yang terpelajar sudah harus baik sejak dalam pikiran. Setidaknya begitulah kata Pramoedya, yang selalu saya yakini benar.


Jakarta, 1 Mei 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(Betul, saya bukan Belanda! Apalagi ganteng dan jago main bola plus punya pacar seksi, itu mah Irfan Bachdim. hehehe)










Jumat, 29 April 2011

Perlukah sosok "ke-kakak-an"?

Catatan Pribadi.
#Tulisan kesebelas, hari kesepuluh.

Ada yang masih ingat nama Dominic Purcell? Aktor kelahiran Inggris ini berperan sebagai Lincoln Burrows di serial televisi Prison Break. Saya masih ingat aksinya bersama Wentworth Miller di serial tersebut. Di mana mereka berdua menjadi sepasang kakak-beradik yang berjuang melarikan diri dari penjara. Ia dengan sangat baik memerankan sang kakak. Belum lama ini, saya menonton film Creek dan ternyata ia memainkan film tersebut, lagi-lagi menjadi seorang kakak.

Entah mengapa, saya sangat menangkap sosok "ke-kakak-an" yang diperankan oleh Dominic dalam dua kesempatan tersebut. Jujur saya tak bisa menjabarkan dengan mendetil, apa yang saya maksud dengan sosok "kekakakan" tersebut. Melindungi adikkah? Menjadi contoh yang baikkah? Mengorbankan dirikah? Entahlah. Lantas saya merefleksikan, mengapa ya selama ini kita tidak akrab dengan istilah "kekakakan"? Apa karena tidak enak diketik dan dilafalkan? Rasanya tidak. Atau karena tidak semua orang akan menjadi seorang kakak? Rasanya tidak juga.

Kita sering sekali terekspos dengan kalimat:
"Wah, dia keibuan sekali.", atau "Dia kebapakan ya?"
Tapi pernahkah kita mendengar kalimat serupa untuk sosok "kekakakan"? Saya sendiri tidak pernah.

Padahal, dengan adanya sosok keibuan dan kebapakan, kita jadi bisa memiliki gambaran ideal di benak kita. Kita juga jadi bisa punya pegangan, jika suatu saat nanti kita menjadi seorang ibu atau ayah. Meski istilah keibuan dan kebapakan kadang mengandung stereotip yang tak selalu benar, tetap saja bagi saya istilah tersebut bisa membentuk suatu skema di otak. Dan itu penting.

Bisa jadi karena kenihilan sosok "kekakakan" tersebut, jutaan kakak di dunia ini bingung, bagaimana sebaiknya mereka bersikap terhadap adik mereka. Terhadap orangtua mereka. Terhadap keluarga mereka. Padahal, jelas seorang kakak dilahirkan dengan tanggung jawabnya sendiri, meski tak selalu berarti lebih besar. Atau memang lebih baik tak perlu ada konvensi tentang sosok "kekakakan", sehingga masing-masing kakak bisa mengembangkan gayanya sendiri? Sehingga kosakata "kakak" tidak perlu dinodai oleh stereotip semu yang dangkal, sebagaimana yang sudah dialami kosakata "istri"?

Entahlah. Untuk apa juga saya repotkan?
Toh sudah lama saya tidak lagi menjabat seorang kakak. hehehe.


Jakarta, 29 April 2011
Okki Sutanto | octovary.blogspot.com
(kekakakan-kah saya? Atau kebapakan? Atau justru keibuan? hehehehe)

Kamis, 21 April 2011

Menyoal Film Tanda Tanya!

Ketikan Pinggir
#Hari-Kedua menepati janji menulis satu tulisan per hari

Menonton film Tanda Tanya memang seru. Tapi, mengikuti diskusi terkait film tersebut ternyata jauh lebih mengasyikan. Sebagai sebuah karya, adalah wajar sekali bermunculan berbagai ulasan, interpretasi, maupun komentar terhadap film Tanda Tanya. Yang membuat ini menjadi seru, selain isunya yang sensitif, juga karena sang sutradara sendiri, Hanung Bramantyo, ikut bersuara.

Yang paling banyak dibaca dan diperbincangkan adalah debat, atau lebih tepat disebut dialog, antara Hanung dan seorang wartawan. Hanung menjawab berbagai tuduhan negatif dan tendensius sang wartawan dengan tenang dan konsisten, berpegangan pada film yang diproduksinya, menit per menit, adegan per adegan. Dalam tulisannya (http://dapurfilm.com/2011/04/dialog-terbuka-film-tanda-tanya/), Hanung menyamarkan identitas sang wartawan. Namun, entah memang mencari popularitas, entah kadung kesal karena tidak bisa menembus perisai pertahanan Hanung dan filmnya dengan alur logika yang waras, sang wartawan dengan naif dan polosnya malah membuka identitasnya sendiri di media online tempatnya bernaung (http://www.suara-islam.com/news/berita/nasional/2496-debat-hanung-versus-wartawan-suara-islam-di-facebook). Masih dari media yang sama, seorang lain lagi turut menghujat film Tanda Tanya (http://www.suara-islam.com/news/berita/opini-si/2465-catatan-untuk-hanung-film-qq-gambaran-toleransi-yang-ngawur).

Dialognya lumayan enak dibaca, namun menganalisa apa yang terjadi di dalam diskusi tersebut bagi saya menjadi jauh lebih penting. Bukannya bermaksud mengagungkan Hanung, tapi kedua penulis di atas terlihat seperti anak TK yang berusaha mendebatkan teori relativitas khusus. Saya bukan ahli film, apalagi agama, tapi setidaknya saya tahu bagaimana harus berdialog. Dialog kedua penulis tersebut terlalu dangkal, tendensius, dan tidak fokus. Mereka meracau mulai dari adegan-adegan yang dirasa kurang pantas, lalu berubah haluan ke pribadi dan keimanan Hanung, lalu banting setir ke ajaran agama dan hal-hal lain yang berbau afektif. Alhasil, perbedaan kualitas berpikir mereka pun terlihat dengan jelas.

Salah satu tulisan lain yang menurut saya cukup baik dan tidak tendensius menyoal film Tanda Tanya adalah tulisan Salim Said (http://cekricek.co.id/tentang-film-karya-terbaru-sutradara-terkemuka-hanung-bramantyo/). Tulisan tersebut tidak mengarah ke ranah agama. Namun saya tidak sependapat dengan sang penulis. Bagi saya, film yang baik tak harus menjelaskan latar belakang dan motif setiap tokohnya dengan mendetil. Kadang, ruang itu dibiarkan kosong untuk diisi sendiri oleh imaji penontonnya.

Pada intinya, saya sangat bingung dengan kebiasaan di negri ini, yang kerap membahas film dari sudut pandang agama. Film, sebagaimana karya seni lainnya, membuka ruang bagi interpretasi masing-masing penontonnya. Film pun tak harus selalu dipandang sebagai propaganda yang secara langsung akan mempengaruhi penontonnya. Jika film semudah itu mempengaruhi penontonnya, tidak ada lagi orang Indonesia yang takut akan setan atau hantu. Kenapa? Beberapa tahun belakangan, begitu banyak film dalam negri yang mengeksploitasi setan dan hantu, baik menjadikannya bahan tertawaan, maupun bahan rangsangan seksual. Jika sekarang ada orang yang melihat hantu malah tertawa atau terangsang, barulah kita boleh berkata film berpotensi kuat mempengaruhi penontonnya.

Kembali ke kasus film Tanda Tanya, bagi saya jawaban-jawaban Hanung sudah cukup. Jika penonton mengambil jarak ketika menonton film tersebut, tanpa harus terpengaruh label-label tertentu yang tendensius, tanpa hasrat membela agamanya habis-habisan, maka seharusnya tidak ada masalah yang muncul. Jika film Tanda Tanya saja sudah dipermasalahkan, bagaimana jika penduduk Indonesia menonton film Monty Python's: Life of Brian (1979)? Sungguh tak terbayangkan apa reaksi yang akan muncul.

Film dan agama adalah dua entitas yang sama sekali berbeda, sehingga bagi saya pribadi kurang pantas mendebatkan suatu film dari sudut pandang agama. Berbeda dengan agama, yang cenderung mengusaikan diri dengan tanda titik, film dan karya seni lainnya selalu membuka diri untuk tanda koma, tanya, bahkan kalimat-kalimat baru di belakangnya. Ada ruang untuk berbagai interpretasi. Ada ruang untuk revisi dan perbaikan, bahkan lanjutan. Maka dari itu, tidaklah perlu kita mendebatkan suatu film dari sudut pandang agama. Film adalah film. Sebuah karya seni, dengan segala kelebihan, juga kekurangannya.


Jakarta, 21 April 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com/
(Omong-omong, selamat Hari Kartini!)

Rabu, 20 April 2011

Banyak Mau versus Ga Punya Mau!

CATATAN PRIBADI.

Seringkali kita dihadapkan pada pertanyaan: Milih kaya atau bahagia? Rasanya kebanyakan dari kita akan memilih yang kedua. Jawaban yang lebih diterima norma sosial pun memang yang kedua. Jika seseorang menjawab "GUE MILIH KAYA!", niscaya ia akan banyak mendapatkan cap kurang sedap. Entah matre, mata duitan, kapitalis, tolol, dan lain sebagainya. Padahal, pada kenyataannya orang-orang kaya jauh lebih diekspos daripada orang-orang bahagia. Setiap tahunnya, beberapa majalah berpengaruh mengeluarkan artikel "Daftar 100 Orang Terkaya di Dunia". Aneh bukan? Jika memang kebanyakan dari kita mementingkan bahagia daripada kaya, mengapa tidak pernah ada majalah yang berani membuat "Daftar 100 Orang Paling Bahagia di Dunia"? Hehehe.

Oke, itu cuma pemikiran absurd saya saja. Lah, gimana kita mau bikin daftar orang paling bahagia, wong definisi bahagia setiap orang aja beda-beda. Malah kadang saling bertolak belakang. Ada yang bahagia kalau bisa dapet pacar. Ada juga yang bahagia kalau bisa putus. Ada yang bahagia kalau bisa kelarin skripsi. Ada juga yang bahagia kalau bisa nunda-nunda skripsi. Intinya, masing-masing orang punya standarnya sendiri. Saya? Saya mah asal bisa turun 5 kilo juga udah bahagia! *curcol* hahahaha. Pada akhirnya, semua orang mau bahagia. Entah dibarengi kaya atau tidak. Kalau iya, ya syukur. Kalaupun enggak, yaudah. Bagi yang enggak, biasanya bakal rajin ngucapin: "Kekayaan kan bukan segalanya.", entah karena sudah benar-benar bahagia, atau hanya mencari kalimat penghiburan. hehe.

Beberapa waktu lalu, salah seorang teman saya menjuarai lomba membuat poster di Surabaya. Salah satu kalimat sakti yang menjadi poin penting di posternya berbunyi: "Do What You Love, and Happiness always with you". Katanya sih, dapat inspirasinya dari salah seorang dosen. Kayak-kayaknya sih saya kenal juga dengan dosen ybs. Kayak-kayaknya doang yah. Mungkin cuma asumsi saja. haha. Intinya, saya setuju dengan kalimat tersebut. Kalau mau bahagia, ya lakukanlah hal yang kita cinta/suka. Berasal dari tesis tersebut, maka syarat pertama untuk jadi bahagia adalah: mengerti apa yang sebenarnya kita cintai. Bisa musik, agama, sastra, olahraga, fotografi, dan lain sebagainya. Nah, pertanyaan berikutnya: "Apa kabar dong orang-orang yang ga punya kecintaan akan apa pun?"

Meski kedengarannya langka, tapi nyatanya ada juga orang-orang yang sulit menemukan apa yang mereka cintai. Kadang saya memikirkan nasib orang-orang tersebut. Apa ya yang akan mereka lakukan dalam hidup mereka? Gimana cara mereka bisa bahagia ya? Apa tujuan hidup mereka ya? Pokoknya, banyak pertanyaan berseliweran deh. Jadi pusing + bingung + prihatin sendiri. Haish.

Belakangan, saya jadi merefleksikan nasib saya sendiri. Sudahkah saya memiliki kecintaan dalam hidup saya? Tahukah saya apa yang bisa membuat saya bahagia? Syukurlah jawabannya cukup optimis. Tapi, ketika saya mencoba menilik lebih dalam lagi, nasib saya ternyata tidak jauh berbeda dengan mereka yang tidak tahu apa yang mereka cintai. Mengapa? Saya mencintai terlalu banyak hal! Mulai dari jurnalistik sampai teknologi. Mulai dari musik sampai dunia pendidikan. Mulai dari politik sampai sastra. Mulai dari film sampai pengabdian masyarakat. Aduh, banyak ya. Ngetiknya aja capek, apalagi ngejalaninnya.

Awalnya saya merasa tidak ada yang salah dengan mencintai banyak hal. Nyatanya, seringkali hal tersebut mendatangkan masalah dalam hidup saya. Saking sukanya sama banyak hal, saya sampai kebingungan setengah mati sama topik skripsi saya. Saking tertariknya dengan berbagai hal, saya sampai suka lupa sama target yang sudah saya tentukan sebelumnya. Hal ini dua kali terjadi: pertama ketika ada kesempatan menjadi ketua lembaga eksekutif di kampus, saya mengambil kesempatan tersebut karena merasa bisa memfasilitasi kecintaan saya di bidang pengabdian masyarakat dan politik, meski taruhannya masa studi saya mundur. Untungnya nasib tidak mengizinkan saya meneruskan kesempatan tersebut. Saya pun lantas berpikir "Bagus deh, jadi bisa fokus ngelarin skripsi dan ngejar kesempatan yang lain". Ternyata, pemikiran tersebut hanya bertahan beberapa bulan. Selang berapa lama, datang kesempatan baru lagi: "menjadi tim inti sebuah proyek pengabdian masyarakat". Dan tanpa pikir panjang, saya terima kesempatan tersebut! Imbasnya, target untuk fokus di skripsi pun jadi harus dimodifikasi lagi. Yasudah lah, toh skripsi kelar ga bikin saya kaya atau bahagia, tapi kalau saya menerima kesempatan ini, mungkin saya bisa bahagia. hehehe.

Dari pengalaman di atas, saya jadi tahu bahwa mencintai banyak hal kadang kurang baik. Oleh sebab itu saya tak berani lagi terlalu memikirkan nasib mereka-mereka yang justru tidak mencintai apa pun. Awalnya, saya kira mereka perlu diperhatikan. Ternyata, orang-orang seperti saya ini juga perlu diprihatinkan. hahaha. Harapannya sih, ke depannya saya bisa tahu, apa hal yang paling saya cintai, sehingga saya tidak terlalu go with the flow dalam hidup saya. Takutnya, flow-nya di situ-situ doang. hehe


Jakarta, 20 April 2011
Okki Sutanto.
(Hore sukses nepatin janji nulis satu tulisan per hari #day-one)

Minggu, 10 Oktober 2010

Maaf, Anda mau menguap? Isi formulir ini dulu ya.

Ketikan Pinggir Hari Ini.

Kemarin saya membaca sebuah artikel di harian KOMPAS yang agak menggelikan. Gedung putih mengadakan sebuah pesta dan mengundang para diplomat. Namun, terjadi sedikit kekacauan. Beberapa Duta Besar justru dilarang memasuki area Gedung Putih. Alasannya: tidak lolos prosedur protokoler. Ketika ditelusuri, ternyata permasalahannya sangat sepele. Informasi pada kartu tanda pengenal para Duta Besar tersebut tidak sesuai standar. Seharusnya, tanggal lahir yang tertera berdasarkan urutan bulan - tanggal - tahun, tapi beberapa Duta Besar menuliskannya dengan urutan tanggal - bulan - tahun. Alhasil, mereka tidak mendapat ijin masuk ke gedung putih. Beberapa dari mereka pun kecewa karena merasa tidak dihargai. Sedikit ironis memang, mengingat sebenarnya pesta tersebut diselenggarakan untuk menghormati para diplomat.

Kisah di atas agak menggelitik. Kita bisa melihat bagaimana prosedur, yang seharusnya dibuat untuk memudahkan, justru jadi menyulitkan. Esensi dan tujuan utama dari suatu aktivitas pun tidak tercapai hanya karena urusan sepele. Ironisnya, saat ini hampir semua organisasi menyanjung tinggi prosedur dan standar baku. Semua organisasi, semua perusahaan, berlomba-lomba mendapat sertifikasi ISO. Semakin terstandar, semakin menunjukkan kualitas. Semakin rapih dan panjang alur birokrasi, semakin hebat. Apa iya?

Tidak dapat dipungkiri, adanya suatu prosedur dan standar baku akan memudahkan banyak hal. Kesalahan bisa diminimalisir. Jika pun terjadi, maka kesalahan bisa ditelusuri penyebabnya. Lalu, apa salahnya dengan menerapkan standar dan prosedur yang ketat? Bagus dong? Belum tentu. Tidak mudah melakukan hal tersebut. Dengan mengetatkan prosedur dan standar, banyak perubahan yang harus dilakukan. Butuh banyak sekali persiapan. Mulai dari tujuan yang jelas, sosialisasi yang gencar, serta mekanisme yang baik. Kesemua hal tersebut haruslah dikelola dengan baik. Jika tidak, maka yang terjadi bukanlah kerapihan sistem, tapi kekacauan. Patut disayangkan hal ini belum dipahami sepenuhnya oleh para pihak berkepentingan. Seringkali menerapkan prosedur dan standar dianggap semudah membalikkan telapak tangan. Tujuan tidak dipahami seutuhnya. Tujuan juga tidak disosialisasikan dengan baik. Terlebih, mekanisme persiapan pun belum memadai. Alhasil, semua usaha penerapan standar dan prosedur pun terkesan sekedar make-up. Yang penting terlihat bagus dari kertas-kertas yang tersusun rapih, tidak peduli bagaimana cara dan prosesnya.

Sayangnya, kita tidak selalu bisa memilih. Kadang suatu sistem yang lebih besar dari kita memilih untuk mengetatkan prosedur. Bisa lembaga pendidikan, bisa organisasi, bisa juga negara. Yang bisa kita lakukan hanya mempersiapkan diri. Jangan lagi membiasakan diri bertingkah seenaknya. Bisa jadi, nanti, sebelum menguap pun kita butuh mengisi suatu formulir khusus. Bisa jadi. Semoga tidak.

Jakarta, 10 Oktober 2010
Okki Sutanto
(sudah menguap beberapa kali)

Referensi:
http://cetak.kompas.com/read/2010/10/09/0351020/30.dubes.dilarang..masuk.

Minggu, 03 Oktober 2010

Mahasiswa ya sampah!

Ketikan Pinggir Hari Ini.

"Mahasiswa itu ibarat sampah."
Mendengar ini, mungkin sebagian besar mahasiswa kebakaran jenggot.
Kesal? Marah? Tersinggung? Terserah.
Setidaknya, diresapi dulu benar-benar kalimat di atas.

Yang dimaksud dengan sampah, bukan dalam artian bau; tidak berguna, & dilupakan orang. BUKAN!
Sebenarnya sampah itu memiliki segudang manfaat.
Didaur ulang untuk dijadikan produk baru? Bisa.
Diproses menjadi sumber energi? Bisa.
Menjadi sumber penghasilan? Bisa.
dan masih banyak lagi.

Akan tetapi, masalahnya adalah sedikit sekali orang yang mengetahui potensi dari sampah.
Pada titik inilah mengapa saya bersikeras bahwa mahasiswa dan sampah bisa disetarakan.
Sedikit yang tahu, percaya, dan yakin pada potensi mahasiswa. Bahkan mahasiswa sendiri pun cenderung merendahkan potensi yang mereka punya.

Mendapat segudang ilmu di perkuliahan, alih-alih memutar otak untuk mengaplikasikan ilmu tersebut, mayoritas mahasiswa malah berlomba-lomba jadi tukang fotokopi di kantor. Mentok-mentok disuruh bikin kopi. Kesal? Boro-boro. Seneng malah. Kerjaan gampang, dapet gaji setara UMR. (Ini otaknya kalo dijual pasti mahal, masih disegel.)
Punya tingkat intelektualitas tinggi, alih-alih berkontribusi pada pembangunan bangsa, mayoritas sudah cukup puas diundang ke acara televisi sekedar untuk tepuk tangan. Dapet makan, dapet duit, disuruh senyum2. Mau-mau aja. Seneng pula. (Ini mahasiswa apa topeng monyet?)
Dilatih berpikir rasional, kreatif, dan solusif, alih-alih bisa menjadi kontrol sosial dan kritis terhadap berbagai hal, malah bangga bisa adu cepet ngetik dan adu cepet dapet gosip dari facebook, twitter, dan bbm. (yang kayak gini bangga kalo bisa dapet video Sinta-Jojo lebih dulu daripada temen-temennya, tapi kalo ditanya kapan hari pahlawan, pada kaga bisa jawab.)
Punya akses ke berbagai fasilitas, sumber daya, dan lain sebagainya, alih-alih mengoptimalkan itu semua, malah puas bisa main Plant versus Zombies di labkom kampus atau baca Lampu Merah di perpustakaan atau update status di kelas (pas dosen lagi ngajar, dan statusnya ngejek si dosen pula!).

Wah, prihatin deh.
Memang tidak semua mahasiswa seperti itu.
Ada juga yang sadar pada potensinya masing-masing dan melakukan berbagai hal, baik untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya, maupun untuk komunitas dan masyarakat yang lebih luas.
Namun jumlahnya masih sedikit. Kebanyakan ya masih seperti sampah.

Kondisi ini jika didiamkan akan semakin parah.
Mahasiswa makin minder dan rendah diri, masyarakat pun jadi ikutan memandang rendah mahasiswa.
Jangan sampe nanti muncul peribahasa baru: "Jangan buang mahasiswa sembarangan!"
Lalu nanti akan muncul tong mahasiswa (bukan tong sampah), yang memisahkan antara mahasiswa organik dan anorganik. Yang setengah dungu dan yang dungu sekali.
Jangan sampe deh! Amit-amit.

Ya, segini dulu deh kali ini.
Semoga makin banyak mahasiswa yang sadar potensi yang mereka miliki, dan bisa berbuat banyak demi kesejahteraan dirinya sendiri, keluarga, juga masyarakat sekitar.
Cari sampah dulu ah!

Diposkan sebelumnya pada 15 September 2010 di Makna-kata.

Selasa, 01 Juni 2010

Buku, Sastra, dan Budaya Baca

Ketikan Pinggir Hari Ini.

Tidak banyak yang tahu bahwa 17 Mei adalah Hari Buku Nasional. Sejak dicanangkan pada tahun 2002 oleh Menteri Pendidikan kala itu, Abdul Malik Fajar, memang tidak banyak pihak yang menunjukkan kepeduliannya. Tahun ini pun hampir tidak ada pihak yang mengadakan suatu kegiatan khusus. Bahkan toko-toko buku terkemuka ikut bergeming. Jangankan diskon buku, sekedar pemberitahuan bahwa hari ini adalah Hari Buku Nasional saja tidak ada. Padahal, sejak tahun 1958 beberapa tokoh mendesak diadakannya Hari Buku Nasional justru untuk menaikkan minat baca masyarakat. Harapan mereka, setidaknya sekali dalam setahun toko buku penuh sesak oleh masyarakat yang ingin membaca dan membeli buku.

Mungkin orang-orang berpikir buku tidak akan membawa kita kemana-mana. Buku hanya berisi teks yang sulit dipahami. Buku hanya menghabiskan waktu saja. Buku inilah. Buku itulah. Padahal, pepatah lama yang berbunyi: "Buku adalah Jendela Dunia" masih tetap berlaku hingga kini. Bahkan dalam daftar "100 Tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah" versi Michael Hart, sepuluh tokoh teratas berkaitan erat dengan Buku. Muhammad, Yesus, Buddha, Konfusius, serta Santo Paulus, jelas sekali pengaruhnya disampaikan lewat buku / kitab suci. Newton dan Einstein sebagai ilmuan terkemuka pada zamannya banyak membaca dan menulis buku. Ts'ai Lun dan Johann Gutenberg bahkan diberikan peringkat 7 dan 8 karena mereka berturut-turut menemukan kertas dan mesin cetak, cikal bakal buku.

Bicara tentang buku, sedikit banyak membuat kita bersentuhan dengan sastra. Agus Wibowo, dalam artikelnya di Kompas 15 Mei 2010 lalu, menuliskan hipotesa yang cukup menarik terkait hubungan sastra dengan kemajuan bangsa. Ia memaparkan bagaimana negara-negara dengan tingkat kemajuan teknologi tinggi, memiliki banyak sastrawan besar di negara mereka masing-masing. Jerman memiliki Goethe dan Hesse. Inggris dengan Shakespeare dan Frost. Rusia dengan Pushkin dan Tolstoy. Bahkan Cina dan India memiliki Lu Shun, Wang Wei, Rabindranath Tagore, dan lain sebagainya.

Dalam artikel berjudul "Sastra, Imajinasi dan Pendidikan Kita" tersebut, Agus mengemukakan bahwa dengan menggeliatnya sastra di suatu negara, secara tidak langsung menstimulasi masyarakat dan kaum intelektualnya untuk menjadi kreatif, imajinatif, dan inspiratif. Dari sanalah lantas muncul pemikiran-pemikiran brilian, penemuan-penemuan hebat, dan sebagainya. Dan dari orang-orang seperti itu jugalah, kemajuan suatu bangsa diwujudkan.

Lantas, bagaimana penghargaan terhadap buku dan sastra di Indonesia? Menurut hemat saya, buku dan sastra belum mendapat porsi yang sepantasnya di negeri ini. Warnet, mal, dan tempat hiburan jauh lebih populer dibandingkan perpustakaan dan toko buku. Ambillah contoh mahasiswa. Jauh lebih mudah bagi sebagian besar mahasiswa untuk menyebutkan merk handphone terbaru atau artis populer yang sedang hangat, dibanding menyebutkan nama sastrawan dalam negeri.

Jika menilik Human Development Index (HDI) milik UNDP, yang indikator utamanya adalah tingkat melek huruf, Indonesia berada di posisi yang memalukan. Bahkan pada tahun 2003 Indonesia berada di posisi 112 sedangkan Vietnam di posisi 109. Akan tetapi, apakah rendahnya tingkat melek huruf lantas menyebabkan bangsa ini malas membaca dan tidak menghargai sastra? Ternyata di kalangan intelek macam mahasiswa dan dosen pun, membaca masih belum dijadikan suatu gaya hidup.

Tidak mudah memang mengubah kebiasaan ini. Terlebih lagi, di Indonesia budaya instan sudah merasuk ke sukma setiap anak bangsa. Segala hal yang memakan waktu akan dianggap "haram", termasuk membaca. Belum-belum menyentuh sebuah buku, umumnya orang sudah membayangkan betapa lamanya buku itu akan dibaca. Malas. Enggan. Padahal, salah seorang tokoh pemerhati perkembangan anak, Gleen Doman (1991), dengan lantang menyatakan bahwa membaca adalah fungsi paling penting dalam kehidupan manusia. Semua proses belajar membutuhkan kemampuan membaca. Bagaimana kita bisa belajar dan berproses, jika membaca saja enggan? Bagaimana kita ingin menghasilkan sesuatu yang hebat, jika otak ini tak pernah diisi oleh hal-hal bermanfaat yang ada di buku?

Menulis hal ini, mau tak mau saya teringat akan perkataan seorang dosen:"Makanya banyak baca, GOBLOG!!

Jadi.... Mari kita membaca.. =)


Jakarta, 17 Mei 2010
Okki Sutanto
(memilih menghabiskan honor asdos dengan memborong 5 buku hari ini)

Senin, 31 Mei 2010

Tentang "Being Stood Up"

Ketikan Pinggir Hari Ini.

Tidak mudah mencari padanan kata untuk "Being Stood Up". Kurang lebih: ditelantarkan oleh orang yang sudah berjanji dengan kita. Dua film terakhir yang saya tonton, menceritakan tentang bagaimana "being stood up" bisa berakibat sangat fatal. Dalam film "THE WRESTLER", ketika Randy tidak sengaja lupa janji makan malam dengan putrinya, ia kehilangan kesempatan mendapatkan kasih sayang putrinya kembali. Dalam film "IT'S COMPLICATED", ketika Jake tidak bisa memenuhi janjinya kepada Jane, mantan istrinya, pintu untuk rujuk kembali pun tertutup untuk selamanya.

Mungkin ada pandangan: "Masa iya satu kesalahan saja sebegitu sulitnya termaafkan, dan berakibat sedemikian fatal?" Jawabannya adalah "YA". Coba kita bayangkan, ketika orang yang sangat kita sayangi berjanji akan menemui kita di suatu tempat. Kita berharap sesuatu yang indah akan terjadi. Kita menyiapkan segala sesuatunya. Kita datang ke tempat yang dijanjikan. Satu menit, lima menit, dan satu jam pun berlalu. Orang yang kita nantikan tidak kunjung datang. Sendirian, tercampakkan, terlupakan. Segala pengharapan kita hancur. Percayalah, tidak mudah menghadapinya. Dan ketika orang tersebut dengan polos berkata "Maaf", apa mudah untuk menerimanya? Belum tentu.

Inti dari pengalaman "being-stood-up" di atas adalah membuat orang lain kecewa, karena kita menjanjikan sesuatu yang melebihi kapasitas kita. Randy berjanji untuk meluangkan waktu bagi anaknnya, namun ia lupa keterbatasannya untuk memiliki agenda sehari-hari di tengah kehidupan urakannya. Jake berjanji datang ke rumah Jane, namun ia lupa bahwa ia masih memiliki istri dan anak yang harus diurus di rumahnya sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin seringkali kasus-kasus di atas disebabkan karena satu hal: Overcommit. Kita kadang terlalu berkomitmen terhadap berbagai hal, di mana kita belum tentu bisa memenuhi hal tersebut. Kita terlalu yakin pada diri sendiri, untuk bisa melakukan berbagai hal dengan sempurna. Hal ini kerap kali melanda mahasiswa. Di tengah krisis identitas dan minimnya kemampuan menakar diri sendiri, bisa saja seorang mahasiswa berkomitmen terhadap terlalu banyak hal. Organisasi A, Organisasi B, Asisten Dosen C, Asisten Dosen D, Kegiatan E, Kegiatan F, Urusan G, Urusan H, dan lain sebagainya. Seru memang, mengeksplorasi kemampuan diri di berbagai bidang. Tapi kadang kita harus bisa menakar diri sendiri. Dan ketika memperhitungkan kemampuan diri, janganlah secara parsial! Oke saya bisa-bisa saja ikut di organisasi A. Oke saya bisa-bisa saja aktif di kegiatan B. Oke saya fine-fine saja jadi pengurus C. Tapi, apa yakin saya bisa menjalankan kesemuanya sekaligus?

Acap kali kita terlalu menyederhanakan masalah. "Tidak apa saya komit ke berbagai hal, toh kalau keteteran juga saya sendiri yang rugi." Pandangan simplistic ini sering membawa "neraka-dunia" pada orang-orang di sekitar kita. Jangan lupa bahwa kita adalah makhluk sosial, dengan pola interaksi dan ketergantungan yang kompleks dengan sesama kita. Ketika kita alpa / lupa / lalai / tidak bisa melakukan suatu hal yang menjadi tanggung jawab kita, bisa saja kita mengecewakan orang lain sebagaimana kasus "being-stood-up" di atas. Dampaknya fatal.

Mungkin sedari sekarang kita harus mulai memikirkan masalah ini. Kita harus mulai sadar, bahwa sebuah tanggung jawab tidak sekedar memiliki dampak personal, seringkali ia bisa berimbas sosial. Ada baiknya kita ingat kembali kalimat bijak dari film Spiderman: "With great power comes great responsibility". Benar begitu bukan?

Jakarta, 14 Mei 2010
Okki Sutanto
(hanya mengajak ber-refleksi, bukan meragukan, apalagi menuduh orang lain overcommit)

Bangsa Artifisial

Ketikan Pinggir Hari Ini.

Beberapa tahun belakangan, makin marak tayangan televisi yang mengusung konsep Reality Show. Ada yang mengarah ke investigasi, romantisme, hingga konseling perkara rumah tangga. Menarik memang, biasanya malah jika ada satu acara yang sukses (ratingnya), stasiun televisi lainnya ikut membuat acara serupa. Alhasil, makin banyak acara-acara Reality Show menghiasi layar kaca setiap harinya.

Jujur, saya amat jarang menonton televisi, jadi saya rasanya tidak memiliki kapasitas untuk mengomentari bibit-bebet-bobot berbagai tayangan tersebut. Yang menarik perhatian saya adalah isu di balik reality show tersebut. Diskusi di milis, forum, dan di berbagai pelosok mengajukan pertanyaan: "Benarkah apa yang ditayangkan di televisi benar-benar kenyataan?". Kerap kali orang sangsi, apa yang mereka saksikan adalah kenyataan. Mereka menduga bahwa berbagai tayangan tersebut tidaklah benar-benar terjadi, hanya sekedar rekayasa. Pernah suatu kali saya membaca tulisan yang dibuat oleh "orang-dalam" televisi, yang menyatakan bahwa memang apa yang ditayangkan itu tidak sepenuhnya realita. Memang ada kasus-kasusnya, tapi yang disajikan di televisi itu hanya reka ulang. Reka ulang pun kerap kali sudah dibumbui dengan dramatisasi yang berlebihan. Intinya: tayangan-tayangan tersebut sebatas artifisial, buatan.

Beralih ke tayangan televisi lainnya, yakni acara musik. Beberapa stasiun televisi menyajikan acara musik yang disiarkan langsung setiap pagi. Ada pembawa acara, ada band yang diundang, ada penonton yang memeriahkan acara. Ternyata, tayangan seperti ini pun hanyalah artifisial belaka. Band yang menyanyi hanya memutar rekaman yang sudah dibuat sebelumnya. Lebih parah lagi, penonton-penontonnya pun artifisial juga! Di salah satu surat kabar, saya pernah membaca liputan, bahwa orang-orang yang menonton acara televisi tersebut, memeriahi panggung, berteriak-teriak, semuanya bukan sungguhan. Mereka bukan fans dari band / penyanyi yang diundang, tapi mereka adalah penonton-penonton "bayaran", yang dari hari ke hari berpindah-pindah lokasi "syuting". Bahkan kegiatan mereka pun sudah terorganisir dengan baik, ada makelar / manager yang memberikan order. Makelar inilah yang dihubungi oleh penyelenggara acara. Mereka tinggal menerima telepon massa, lantas penonton pun berangkat ke lokasi "syuting". Salah seorang makelar mengaku bisa menggerakkan 100-200 massa setiap harinya, dan memiliki "katalog" massa yang bisa disesuaikan dengan acaranya, mau yang muda, tua, rapih, rusuh, ada semua.

Nah, semalam di salah satu stasiun televisi, saya menyaksikan lagi bisnis makelar manusia. Kali ini, lingkupnya bukan penonton acara musik lagi. Kali ini adalah pendemo. Ya, pendemo! Yang melakukan aksi unjuk rasa, berteriak-teriak di bundaran H.I, di gedung MPR DPR, di sekitar Monas, dan lain sebagainya. Massa tersebut juga ternyata memiliki makelar yang mengkoordinir. Para "oknum" / "dalang" / "biang" yang memiliki kepentingan politis untuk mengadakan demonstrasi tinggal menghubungi makelar tersebut. Bayaran per pendemo berkisar antara 10-15ribu. Bayaran ini bisa meningkat, tergantung tingkat aksi yang di-pesan. Jika aksi damai, bayaran murah. Jika aksi agak rusuh, seperti menggoyang-goyangkan pagar, lebih mahal. Mau aksi anarkis, bayaran paling mahal, bisa mencapai 50ribu per pendemo. Salah seorang makelar mengaku bisa menggerakkan ratusan hingga ribuan massa. Dalam sekali aksi, mereka mendapatkan bayaran 30-50juta, belum termasuk biaya akomodasi bagi pendemo. Keuntungan sang makelar per event kurang lebih hanya 10-15% saja. Sisanya untuk membiayai aksi demo.

Menilik berbagai uraian di atas, menarik bukan tren kehidupan artifisial di Indonesia? Entah sejak kapan, makin banyak hal-hal yang tidak asli, hanya tiruan saja, di negeri ini. Entah sampai kapan, bangsa ini mau menjadi bangsa artifisial. Menonton televisi, isinya reality show "buatan". Mau nonton konser musik, isinya penonton "buatan". Melihat demo di jalanan, ternyata pendemonya pun "buatan". Wah, makin lama makin susah membedakan mana yang asli dan mana yang buatan. Jangan-jangan, presiden saya juga buatan doang? Hahahaha.. Semoga saja tidak.

Jakarta, 11 Februari 2010
Okki Sutanto
(mulai ragu otak-nya buatan atau aseli)

Punahnya Pejabat Bersih

Ketikan Pinggir Hari Ini

Acap kali kita prihatin, mempersoalkan mengenai “busuk”nya para pejabat. Sebut saja beberapa perilaku “biadab” mereka yang membuat hati siapa pun yang melihatnya miris: membeli mobil dinas baru masing-masing berbanderol RP 1.3M, meloloskan pembelian pesawat kepresidenan seharga ratusan miliar, hingga ke pelbagai perilaku non-etis yang menghiasi sidang Pansus Bank Century.

Menyikapi hal tersebut, sering muncul kebingungan mengapa para pejabat sedemikian payahnya. Mereka selalu mengedepankan kepentingan individu dan golongan, tanpa berkontribusi optimal memajukan kesejahteraan bangsa ini. Korupsi terus dibudidayakan, kenyamanan pejabat terus diupayakan, tapi kinerja tidak pernah maksimal. Coba saja sebut, bidang apa di negeri ini yang patut diacungi jempol? Olahraga nol besar, Ekonomi merangkak, Lingkungan Hidup sekarat, Pendidikan hancur lebur, Kesehatan memprihatinkan, dan seterusnya.

Menurut hemat penulis, penyebab jarangnya orang-orang bersih, baik, pro-rakyat, dan bersungguh sungguh memajukan negri ini ada 2, yakni Buruknya citra politik di Indonesia, dan Terlalu kuatnya budaya politik di Indonesia.

Buruknya citra politik

Setiap orang tentu memiliki pengetahuan sebelumnya terhadap profesi yang akan dipilihnya. Misalnya saja, tidak mungkin seseorang mau menjadi dokter tanpa tahu apa itu dokter dan bagaimana pekerjaan dokter. Nah, di sinilah sumber masalahnya. Citra penyelenggara negara tidak pernah bagus semenjak masa Orde Baru. Yang mengemuka bukanlah bahwa tujuan pekerjaan mereka memajukan bangsa dan negara, melainkan kemudahan-kemudahan hidup yang akan didapatkan ketika menjadi pejabat: Kinerja yang tidak dikontrol ketat, gaji dan tunjangan yang nilainya tinggi, serta fasilitas-fasilitas khusus yang didapatkan. Hasilnya, ketiga hal tersebutlah yang menjadi sasaran ketika seseorang mau menjadi pejabat. Alhasil, orang-orang “kotor”lah yang memasuki lingkarang penyelenggara negara. Orang-orang yang bersih, jujur, dan memiliki idealisme, justru menjadi ANTI terhadap dunia politik. Mereka menjaga jarak, mengkritik penyelenggara negara dari lingkar luar kekuasaan.

Kuatnya budaya politik

Buruknya citra politik nasional tidak serta merta menyebabkan seluruh politikus menjadi busuk. Faktor kedua yang menyebabkan punahnya pejabat bersih adalah terlalu kuatnya budaya politik di Indonesia yang sudah “terinfeksi”. Dalam salah satu karya Yuma Ando, “KUNIMITSU”, terdapat ilustrasi yang sempurna bagaimana seorang politikus bersih menjadi kotor seiring ia mengenal dunia politik. Politikus tersebut pada awalnya memiliki ambisi, idealisme, dan visi membangun bangsa. Pada awal karir politiknya, ia meneguhkan hati bahwa ia harus memiliki jabatan tinggi, lantas setelah itu barulah ia akan mengubah negaranya. Namun, di tengah perjalanan karir politiknya, ia mau tidak mau harus mengikuti “aturan-main” yang sudah ada sejak lama. Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme dengan terpaksa ia lakukan agar ia bisa diterima di dunia politik, dan karirnya akan menanjak. Lambat laun, praktik kotor itu mendarah daging dalam dirinya. Memang, pada akhirnya ia mendapatkan karir yang bagus di dunia politik, namun ternyata ia sudah kehilangan tujuan awalnya berkecimpung di dunia politik.

Bukannya mengubah negara melalui dunia politik, dunia politiklah yang mengubah seseorang yang bersih menjadi korup. Hal ini juga yang terjadi di Indonesia. Mereka yang bersih pada akhirnya harus mengikuti budaya yang telah terbentuk di dunia politik. Jika tidak, mereka tersisih. Hanya sedikit yang berhasil menerobos arus budaya yang sudah demikian kuatnya. Alhasil, hampir seluruh pejabat di negeri ini morbid, sakit!

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana cara memutus “lubang-hitam” politik ini? Bisakah? Jawaban optimisnya tentu bisa. Jawaban realistisnya: HAMPIR MUSTAHIL. Untuk merubah citra dunia politik, mau tidak mau budaya politik harus diperbaiki. Dan untuk memperbaiki budaya yang telah mengakar, tidaklah semudah membalik telapak tangan. Kita membutuhkan orang-orang bersih yang mau berkecimpung di dunia politik untuk memperbaiki budaya di sana. Untuk membentuk orang-orang bersih tersebut, dibutuhkan “lembaga” pendidikan yang bisa mencetak orang-orang teguh, kompeten, dan peka terhadap masalah bangsa. Masalahnya, adakah “lembaga” pendidikan tersebut? Tidak.

Jakarta, 1 Februari 2010
Okki Sutanto
(hanya bisa prihatin)

Pancasila Sekarang

Ketikan Pinggir Hari Ini

Pancasila tidaklah diciptakan, melainkan digali. Mungkin fakta ini sudah kita ketahui melalui pelajaran Sejarah ataupun Pancasila sewaktu sekolah menengah. Mungkin juga kita sekedar tahu fakta tersebut, tanpa memahami makna lebih lanjutnya. Berdasar dari sana, maka Pancasila sama seperti umbi-umbian dalam dua hal: merupakan hasil dari jerih payah, serta bisa diolah lebih jauh lagi.

Jika umbi-umbian merupakan jerih payah petani, maka Pancasila adalah hasil jerih payah sejarah bangsa ini sendiri. Jika umbi-umbian setelah digali akan diolah untuk memiliki nilai guna lebih, demikian pula hendaknya Pancasila. Ia tak butuh di’sakti’-kan, ia tak butuh di-‘mulia’-kan. Sama seperti umbi-umbian, Pancasila berasal dari, oleh, dan untuk rakyat itu sendiri.

Kesalahan fatal memaknai Pancasila terjadi di zaman Orde Baru. Pancasila dimuliakan, disaktikan, diluruskan, dan dilindungi sedemikian rupa hingga tafsir penguasa lah yang dianggap paling benar. Hal ini membuat banyak orang menjadi fanatik akan Pancasila, dan menganggap tabu, bahkan haram, untuk merevisi Pancasila.

Semua sila dalam Pancasila sejatinya baik dan benar, tidak ada yang membantah. Akan tetapi apa penting kita memiliki Pancasila yang dihormati sebatas simbol belaka tanpa pengamalan dan pengimplementasian? Apa masih ada jiwa Pancasila dalam kehidupan kita sehari-hari?

Mari kita tilik kelima sila tersebut. Pertama, KeTuhanan yang Maha Esa. Hingga detik ini, persatuan dan toleransi antar umat beragama masih belum pantas diacungi jempol. Masing-masing agama sendiri, terutama yang mengusung konsep keTuhanan, belum mampu menghasilkan umat yang berbudi luhur. Bahkan tak sedikit yang menelikung sila pertama ini menjadi “Tuhan-kuyang paling Esa”. Belum lagi Pejabat korupsi, Mahasiswa tawuran, Masyarakat berkonflik, Kriminalitas meningkat, di mana ke-ESA-an Tuhan kita masing-masing jika begitu?

Sila berikut membahas mengenai Kemanusiaan yang adil dan beradab. Beradabkah kita, ketika menyumpahserapahi sesama rekan dewan di ruangan negara, disiarkan televisi nasional? Beradabkah kita saling serobot di jalan raya, bahkan tak peduli keselamatan orang lain? Adilkah kita saat tahanan lain berdesak-desakan dalam satu sel, namun kita memiliki sel bak kamar hotel bintang lima?

Sila berikutnya berbunyi: “Persatuan Indonesia!”. Sudah bersatukah kita? Di saat masing-masing partai mengusung negara utopia sendiri. Di saat begitu banyaknya aliansi, kelompok, golongan, ikatan, dan lain sebagainya yang demikian banyak padahal memiliki tujuan yang sama? Juga di saat intra golongan pun harus bentrok dan terjadi perpecahan.

Sila keempat: Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Adakah mufakat dan kebijaksanaan ketika yang benar adalah mereka yang berkuasa? Adakah keterwakilan yang benar-benar mewakili rakyat? Omong kosong dengan Dewan Perwakilan Rakyat, mereka adalah Utusan Wakil Partai, dengan kepentingan golongan, dengan tujuan individu.

Sila kelima sekali lagi membahas keadilan: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Adilkah bangsa ini ketika mahasiswa berprestasi dibunuh di negeri tetanga tanpa investigasi dan pemberitaan memadai? Juga ketika orang yang kebetulan terkenal mengupdate twitter dengan kata makian, berita itu justru menghiasi layar televisi berminggu-minggu? Adilkah bangsa ini saat pencuri kakao dan pencuri kapas dengan harga di bawah sepuluh ribu rupiah dibui, ketika korupsi miliaran bahkan triliunan berlangsung tanpa ada yang diadili? Absurd nian 'keadilan' di negeri ini.

Jika demikian adanya pengamalan Pancasila di negeri ini, masih sakti-kah Pancasila kita? Jika tidak, harus bermuram durjakah kita memandang kondisi bangsa ini? Tidak juga. Setidaknya kita bisa bersyukur atas satu hal: bersyukurlah Pancasila digali saat awal kemerdekaan, bukan saat ini. Bayangkan apa yang bisa dijadikan Pancasila tatkala carut marut persoalan negara tak hentinya menggerus moral bangsa saat ini.

Namun bersyukur saja tidak cukup. Kita bisa mulai memaknai dan mengamalkan Pancasila, membangkitkannya kembali. Mulai dari hal-hal kecil, mulai dari diri kita sendiri, mulai dari saat ini. Jikalau generasi ini sudah demikian bebal untuk mengerti makna Pancasila, setidaknya kita bisa mengajarkannya pada anak-cucu kita nantinya. Sehingga muncullah generasi baru yang berjiwa Pancasila, yang mampu menahkodai lagi bangsa ini ke arah yang benar.

Jakarta, 14 Januari 2010.
Okki Sutanto
(sedikit banyak terinspirasi dari Caping Goenawan Mohammad)

Ketika Sang Waktu Berlari

Ketikan Pinggir Hari Ini.

Sudah cukup lama jemari ini tak mengetik. Selain karena kondisi pikiran yang tak mendukung untuk menulis, waktu yang sedemikian sempit juga rasanya tak memungkinkan. Akhirnya bulan menulis (khusus bagi diri saya) kemarin, saya tidak berhasil mencapai target 30 tulisan. Ketikan Pinggir bulan lalu hanya 18 tulisan (http://www.facebook.com/notes.php?id=1417375192&start=10). Tak apalah, toh selanjutnya saya akan terus menulis. hehe..

Waktu. Ia tak pernah bisa memuaskan banyak orang. Sebagian merasa waktu dalam sehari terlalu banyak. Lainnya merasa terlalu sedikit (termasuk saya). Tak jarang ketika melewati danau di dekat rumah, saya melihat banyak sekali orang menghabiskan waktu di sana saat jam kerja. Hanya untuk duduk-duduk, melihat orang memancing, atau menyantap es kelapa. Mulai dari anak muda, karyawan kantoran, hingga yang sudah mulai beruban, bisa dijumpai di danau tersebut. Kadang juga ketika melintas di flyover-flyover ibu kota, saya melihat orang-orang memarkirkan motornya di puncak flyover. Lalu berhenti dan melihat ke jalanan di bawahnya. Sambil bengong, kadang sambil merokok.

Mungkin bagi orang-orang tersebut waktu dalam sehari terlalu banyak. 24 jam kelebihan, cukup lah 15-20 jam! Wong kerjaan aja gak ada koq. Ngapain sih ampe 24 jam? hahaha..

Namun bagi kelompok lainnya, 24 jam sangatlah tidak mencukupi. Tugas, Pekerjaan, dan Aktivitas-aktivitas lainnya seakan berkejaran tanpa lelah. Jangankan tidur berkualitas, bisa tidur 6 jam saja sudah sangat bersyukur rasanya. Jangankan meluangkan waktu untuk bersenang-senang, bisa memejamkan mata sejenak tanpa diganggu urusan lain pun sudah nikmat rasanya. Waktu rasanya terus berlari, dan ia tanpa sadar membuat kita ikut berlari juga.

Sempat terlintas pikiran nyeleneh ketika memikirkan ironi waktu ini. Andai ada alat untuk barter waktu! Jadi waktu dalam sehari dapat ditukarkan antar individu. Orang yang merasa 24 jam terlalu banyak bisa menyumbangkan waktunya ke orang-orang yang merasa 24 jam terlalu sedikit. Begitu pula sebaliknya. Sehingga tidak ada lagi yang tidak puas dan memprotes sang waktu. Semua senang, semua enak.

Ah! Lagi-lagi hanya angan belaka. Mungkin memang sudah demikian adanya diatur oleh sang empunya waktu. Mungkin ada makna yang jauh lebih besar yang belum bisa kita pahami, mengapa waktu harus seperti itu. Mungkin, dan hanya mungkin...

Jakarta, 1 November 2009.
Okki Sutanto
(mungkin terinspirasi oleh doraemon)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...